Jumat, 20 Januari 2012

Puas Dalam Kristus

Oleh Pdt. Yohan Candawasa, S.Th

Yohanes 3: 16; karena begitu besar Allah mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.


Manusia di dalam dirinya, selalu mencari sesuatu, mengerjakan banyak hal demi kenikmatan atau untuk kebahagian hidup. Manusia bekerja, mencari uang, dan melakukan berbagai agenda kegiatan yang bertujuan mencapai kepuasan tertentu. Tetapi, harus diakui dengan segala upaya itu manusia takkan pernah sampai pada kebahagiaan sejati, yang sesungguhnya paling dicarinya itu. Kepuasan mutlak sampai kapan pun tidak mungkin digapai oleh manusia melalui materi, serta dalam apapun yang dimiliki, dan dilakukannya.

Klaim kita adalah, hanya Kristus pemberi kepuasaan sejati, dan manusia hanya bisa memperoleh kepuasan jika ada di dalam Kristus!

Melihat perjanjian lama, Allah telah memberi banyak hal—dalam proses penciptaan—untuk dinikmati manusia. Dalam hal materi, manusia sesungguhnya telah melimpah, dan punya cukup alasan untuk mencapai kepuasan. Namun, dalam perjanjian baru, ternyata Kristus pun masih dianugerahkan, sebagai bentuk cinta kasih Allah kepada manusia. Hanya, untuk apa lagi Kristus Yesus dikaruniakan kepada manusia? Apakah manusia sesungguhnya membutuhkan Kristus? Manusia membutuhkan Kristus untuk apa?

Jika kita mau jujur melihat diri, apa yang sering paling diinginkan (baca: diharapkan) oleh manusia? Apakah Kristus? Belum tentu! Kalau hari ini kita sengaja menuliskan urutan prioritas hal berharga dalam hidup, apakah Kristus menjadi yang pertama? Bisa jadi bukan Kritus, tapi ada hal yang lain! Mungkin mobil, pacar, atau pengetahuan kita.

Kepuasaan kosong

Apa sesungguhnya yang bisa memuaskan manusia? Apakah materi? Apakah pengetahuan?

Sebagai ilustrasi, kita sering melihat tayangan televisi—semisal uang kaget—yang memberi kejutan dengan memberi sejumlah uang tertentu kepada mereka yang dianggap tidak mampu, dan hidup berkekurangan. Mereka yang diberi, sering mengekpresikan kekagetannya dengan sikap histeris, menangis, bahkan pingsan karena tidak percaya dengan fakta menyenangkan itu.

Dalam konteks tertentu, mereka yang menerima memang membutuhkan uang itu. Mereka adalah manusia yang juga perlu membeli barang, dan membutuhkan sesuatu demi keberlangsungan hidup. Namun, jauh dari kebutuhan ini, apakah materi yang didapat itu mampu memberi sesuatu yang membuat mereka berhenti mencari kepuasan?

Mari kita ilustrakan lebih jauh. Hari pertama, orang yang tidak mampu itu (dibaca: kita) diberi uang 10 juta. Ekpresi sukacita dari kita pun terpancar, dan senyum syukur itu juga terlihat, bahkan (mungkin) kita segera pingsan—apalagi, kalau itu diberikan kepada kita yang jarang bertemu muka dengan jumlah uang 10 juta. Hari lain, kita diberi jumlah uang yang sama, ekpresi tetap ada, namun sudah tidak sampai pingsan lagi. Ekspresi keterkejutan itu sudah tak segempar awal pertama kali diberi uang kaget tersebut. Kita merespon dengan cara yang biasa. Hari berikutnya, bukan hanya pingsan, dan respon dalam bentuk ucapan syukur yang tak muncul lagi, namun ucapan terima kasih juga (bisa jadi akan) menghilang. Kita telah menganggap pemberian itu sebagai hal yang biasa!

Nah, bagaimana kalau jumlah uang yang sama diberikan setiap hari selama satu bulan? Atau dalam rentan waktu yang terus berulang? Apakah eskpresi pingsan, senyum syukur masih tetap ada?

Contoh ketidakpuasaan yang lain. Uang 10 juta yang diberi itu, dan dilakukan berulang kali tidak akan menghasilkan ekspresi yang sama setiap diberikan. Ekpresi itu—ekpresi histeris, sujud syukur, atau bahkan pingsan di awal—hanya mungkin terulang kalau uang yang diberi itu ditambahkan jumlahnya, semisal, menjadi 100 juta, kemudian menjadi 300 juta, menjadi 600 juta, dst, dst.

Walau demikian, pemberian jumlah uang yang besar itu juga tidak akan membawa kita pada kepuasaan yang sejati. Ketika pertama kali diberi diberi uang 100 juta, misalnya, ekspresi pingsan, dan syukur hebat mungkin akan muncul. Namun, ekspresi yang sama juga akan meredup seturut pemberian itu menjadi sesuatu yang biasa, dan menjadi rutinitas. Terkadang, anugerah akan menjadi hal biasa kalau terlampau sering diberikan, dan terlampau sering pula kita nikmati.

Kondisi ekpresi kaget sesaat hanya akan muncul ketika kita pertama kali diberikan uang melimpah atau dengan jumlah besar dalam ukuran kita. Tidak hanya 10 juta, bukan pula 100 juta, juga bukan 500 juta, tetapi ketika diberi uang 1 milyar pun, ekspresi syukur sesaat itu akan berulang, tetapi segera redup, menghilang, dst. Itu akan terus terjadi pada saat jumlah uang yang diberikan ditambahkan, tetapi ucapan syukur, ekspresi kaget itu segera menghilang ketika pemberian itu terlihat biasa, atau telah menjadi rutinitas. Dan menyedihkannya, pencarian terhadap kebahagiaan sejati itu, sampai kapanpun tak juga kunjung kita dapatkan. Ya, sebab yang dicari manusia sesungguhnya adalah kepuasan yang tak terhingga, dan tak ternilai. Dan itu tidak didapat dalam materi yang melimpah, berapapun jumlahnya!

Sering juga anugerah itu kita klaim sebagai hak. Ketika sering diberi uang 10 juta secara rutin, sering kali menimbulkan sikap bahwa diberi uang dengan jumlah tertentu itu adalah hak dan harus terus ada. Anggapan ini akan melahirkan sikap marah, kalau-kalau pemberian uang itu jumlahnya dikurangi, apalagi kalau dihentikan oleh sang pemberi. Inilah barangkali sikap yang acap kali kita hidupi dalam merespon anugerah pemberian.

Alat dan tujuan

Ketidakpuasan ini akan terus terjadi, dan kebahagiaan sejati juga tak kunjung didapat, selagi manusia terus salah menempatkan segala sesuatu pada posisi yang tidak semestinya.

Ada bagian dari realitas hidup ini yang berfungsi sebagai tujuan, pun ada yang berguna sebagai cara atau alat. Tujuan adalah tujuan, dan alat adalah alat. Kedua hal itu mesti ditempatkan pada posisinya, dan tidak ditukartempatkan. Kesalahan penempatan tujuan dan alat akan terus membawa manusia pada pemuasan semu yang jauh dari kepuasan sejati.

Idealnya, alat adalah jembatan bagi pencapaian tujuan tertentu. Alat berarti sesuatu yang tidak berhenti pada dirinya, dalam diri dan melalui alat ada sesuatu yang ingin dituju.

Tujuan adalah akhir dari segala yang ingin dicapai melalui alat. Manusia memiliki tujuan ingin bahagia dan puas di dalam hidup. Persoalan kita adalah, cenderung mencari kebahagiaan melalui, dan dalam cara atau alat. Kita cenderung menempatkan alat sebagai tujuan, ukuran kebahagian, dan mencari kepuasan di dalamnya.

Membedakan tujuan dan alat bisa dilakukan dengan cara mempertanyakannya. Tujuan tak mungkin ditanyakan lagi untuk apa, tetapi bagi alat, itu masih mungkin dilakukan.

Sebagai contoh, bahagia adalah tujuan. Ini terjadi sebab, sudah tidak ada lagi yang ingin dicapai melalui bahagia. Untuk apa bahagia? Tentu tidak ada jawaban lain, selain karena ingin bahagia itu sendiri. Berbeda dengan alat. Ambil contoh, banyak uang atau kaya, berpendidikan, cerdas, ahli, dst.

Semisal kaya, kita bisa bertanya untuk apa kita kaya? Karena ingin membantu orang lain, dst. Atau untuk apa kita pintar? Supaya bisa berkarya dengan maksimal. Atau untuk apa kita bersekolah? Untuk bisa mengubah nasib hidup ke arah yang lebih baik. Tapi, bagian-bagian jawaban dari sebagian contoh ini, pun masih bisa dilanjutkan dengan pertanyaan berikut; semisal, untuk apa mengubah nasib ke arah yang lebih baik? Supaya bisa membangun keluarga yang baik. Pertanyaan pun masih bisa dilanjutkan dengan, untuk apa membangun keluarga yang baik itu? dst, dst. Atau yang lain, untuk apa kita kaya? Karena ingin membantu orang lain.

Untuk apa membantu orang lain? Beragam jawaban bisa muncul dari pertanyaan tersebut. Ini hanya contoh, bahwa ada banyak bagian dari hidup ini yang sejatinya harus ditempatkan sebagai alat, dan bukan sebagai tujuan.

Seks pun demikian. Terkadang orang mejadikan seks sebagai tujuan; menikmati seks tanpa mengetahui hahekat sesungguhnya dari seks tersebut. Tuhan menciptakan seks bukan hanya untuk kepentingan beranak-cucu. Seks hadir, juga untuk dinikmati manusia. Hanya, seks baru bisa dinikmati secara benar kalau kita ada di dalam Tuhan, menggunakan seks dengan kaidah dan prinsip yang benar. Tanpa kebenaran yang menuntun, manusia hanya akan terjebak menggunakan seks dengan salah dan tidak bertanggung jawab. Manusia tidak akan menggunakan seks sebagai alat yang membawa pada kenikmatan yang sesungguhnya.

Salomo adalah contoh untuk kedua hal itu: mencari kenikmatan melalui seks dan harta, namun jauh dari pada Tuhan. Salomo terus mencari kenikmatan seks melalui banyak wanita yang diperistrinya. Salomo mencari kenikmatan melalui harta yang dimilikinya. Namun tetap, kenikmatan sejati itu tak kunjung ditemuninya. Ini terjadi sebab, Salomo menempatkan seks dan harta sebagai pemberi kenikmatan sejati. Padahal bukan kenikmatan sejati yang didapat Salomo, justru kekosongan yang besar kian diperolehnya. Bukti kekosongan itu adalah Salomo merasa kurang kalau hanya beristri satu, dua, lima, sepuluh, seratus, tigaratus, dst. Ketika jumlah itu masih dirasa kurang olehnya, maka Salomo pun mencari pada ratusan, bahkan ribuan wanita lainnya. Itupun kepuasan sejati tak juga didapatinya. Salomo bisa jadi adalah cerminan natur kita, natur dari manusia berdosa yang mencari kepuasan di luar persekutuan dengan Allah.

Jumlah wanita yang dimiliki Salomo dari sisi lain, sebenarnya sedang menunjukan kepada kita bahwa dia sesungguhnya merindukan kenikmatan absolut itu. Salomo merindukan kenikmatan yang tak terbatas, dan itu hanya bisa diberikan oleh Allah, di dalam Kristus Yesus. Salomo gagal melihat kebenaran ini, maka dia pun mencari kenikmatan melalui memiliki banyak wanita dan harta!

Orang yang bersedih karena sanak-saudaranya meninggal, juga dari sisi lain menunjukan kerinduan terhadap kebahagian dan kasih yang absolut itu. Kesedihan dialami karena merasa relasi kasih antara dirinya dengan orang yang meninggal terputus. Singkat kata, kesedihan orang ketika menghadapi kematian seakan sedang berbicara, “aku ingin agar kita jangan berpisah, dan selalu bisa bersama.” Itulah kerinduan manusia, ingin cinta kasih yang absolut yang tak terbatas (kekal) oleh ruang dan waktu. Hanya disayangkan adalah, keberdosaan manusia menjadikan kita sering mencari kenikmatan itu pada sesuatu yang bersifat sementara, mencarinya pada alat, dan bukan di dalam Kristus sebagai tujuan dan pemberi kepuasan sejati itu!

Berbicara kenikmatan, ada hal yang salah dengan gereja kita hari ini. Kecenderungan adalah, gereja sering melarang orang percaya untuk menikmatii sesuatu. Seakan setelah menerima Kristus, manusia percaya diharuskan mengabaikan dan tidak boleh menikmati berbagai hal (hal-hal nikmat) yang Tuhan ciptakan itu. Padahal, seks, misalkan, diciptakan Tuhan untuk bisa dinikmati manusia. Berhubungan seks bukan hanya untuk tujuan menghadirkan generasi baru (anak). Kalau demikian fungsinya, maka sejatinya setiap berhubungan kita pasti melahirkan anak. Tetapi itu tidak terjadi, sebab seks juga diciptakan Tuhan untuk dinikmati oleh mereka yang melakukannya sebagai alat menyatakan cinta kasih terhadap pasangannya (suami-istri).

Kristus adalah kenikmatan sejati itu

Yesus Kristus, adalah Tuhan yang memberi kepuasan atau kebahagian sejati bagi manusia. Yesus telah menunjukan itu dengan menjadi jawaban bagi kebutuhan kapuasan seorang perempuan Samaria yang bersuami lima orang itu. Yesus tidak berkata jangan mencari suami lainnya, jangan lagi mencari kenikmatan melalui menikah dengan banyak orang. Namun kepuasan yang Tuhan berikan kepadanya cukup membuat dia tidak lagi mencari kenikmatan di luar apa yang mestinya. Kristus telah memberikan kebahagiaan yang selama ini dicarinya.

Yohanes pun tidak mencatat bahwa perempuan itu pergi dan terus mencari kenikmatan dengan cara yang lama. Perempuan itu sungguh telah terpuaskan oleh-Nya, dan seketika itu berhentilah ia dari cara mencari kenikmatan yang salah itu. Artinya, kenikmatan yang dicari melalui seks terlarang, ternyata tidak lebih berharga dari kenikmatan sejati yang diberikan Kristus. Dan sesungguhnya itulah kenikmatan yang dicari oleh manusia; kenikmatan atau kebahagiaan sejati yang tidak terbatas (kekal).

Harta, seks, dan apapun yang dilakukan manusia tidak akan memberikan kenikmatan sejati di dalam dirinya. Semua itu hanya alat untuk menikmati Allah dan memuliakan-Nya, dan bukan tujuan di dalam dirinya.

Kebahagiaan sejati hanya bisa diperoleh di dalam Kristus, dan bukan di dalam berbagai hal, termasuk di dalam materi yang terbatas. Untuk itu, menyatulah bersama-Nya. Hiduplah di dalam-Nya, dan firman-Nya. Dan nikmatilah apapun itu bersama dengan Dia, dan di dalam Dia.

Kebutuhan terhadap kenikmatan kekal dan tak terbatas adalah alasan mengapa Kristus mesti dihadirkan, dan mengapa juga Allah Sang Pencipta berkenaan memberikan Anak-Nya yang tunggal itu. Bukan hanya karena segala ciptaan-Nya—di penciptaan awal—tidak memadai untuk memberikan kenikmatan, tetapi segala materi melimpah yang diciptakan itu tidaklah cukup memberikan kebahagiaan sejati kepada manusia, untuk itu, Kristus dikaruniakan kepada kita.

Kehadiran Yesus bukan hanya memberi pengharapan bagi hidup yang lebih baik, namun juga untuk memberikan kepuasan kepada kita yang mencari dan yang memerlukan kepenuhan dari pada-Nya.

Biarlah hidup kita menjadi satu dengan diri-Nya. Dengan begitu, kepuasan atau kebahagiaan sejati yang selama ini terus dicari manusia, senantiasa ada dan menjadi bagian dari hidup kita. Amin! Selamat menikmati prosesi menjelang natal. (SG.Ringkasan Khotbah Natal Perkantas, 4 Desember 2010).

http://riednograal.wordpress.com/category/refleksi-teologi/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar