Selasa, 17 Januari 2012

Miskin Harta Kaya Rasa

Pdt. Bigman Sirait
JEMAAT Smirna adalah jemaat miskin, tetapi dalam Wahyu 2:9 dikatakan bahwa Smirna adalah jemaat kaya. “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu – namun engkau kaya...“ Itu dikatakan dengan kalimat yang jelas, tegas dan lugas.  Jemaat Smirna adalah jemaat yang miskin harta, itu fakta.  Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa mereka miskin? Padahal Smirna bukanlah kota yang miskin, ekonomi penduduknya cukup lumayan, tapi itu tidak berlaku pada Jemaat Tuhan di sana.

Integritas Si Miskin
Orang Kristen Smirna adalah Kristen yang memiliki prinsip.  Ketika mereka diminta menyembah Kaisar Tiberius, bentuk penghormatan rakyat Smirna pada Roma, sebagai seorang Kristen mereka menolak.  Penolakan jemaat Smirna mengakibatkan mereka dicap sebagai pengganggu pengabdian Smirna kepada Roma. Dianggap sebagai gerakan bawah tanah yang patut diisolasi dalam pergaulan dan dipersulit dalam kerja dan usaha.  Dalam berdagang misalnya, ketika jemaat Smirna ingin membeli sesuatu, tidak seorang pun mau menjualnya.  Sebaliknya, ketika hendak menjual barang, tidak ada satupun orang yang mau membeli.  Ini bermuara pada sulitnya perekonomian jemaat Smirna, membuat beban mereka semakin berat, dan sangat pahit.  Menariknya, kepahitan itu tidak lantas membuat mereka berhenti.  Mereka tetap mencintai Tuhan, dan mengabdi pada-Nya.  Itu sebab Tuhan berkata, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu – namun engkau kaya...“
Smirna, miskin secara  jasmani, miskin harta, tetapi tetap punya gairah hidup yang luar biasa. Smirna kaya secara rohani.  Orang Smirna muncul sebagai jemaat yang punya kualifikasi, miskin, tapi terhormat.  Miskin tidak membuat mereka menjual diri, mengobral harga diri, apalagi bekompromi demi kekayaan dan sesuap nasi, rela pergi ke kuil dan menyembah patung Kaisar.  Jemaat Smirna tidak rela menundukkan diri pada patung manusia.  Mereka tahu, Tuhan adalah Tuhan yang hidup yang ada dalam surga, kepada-Nya-lah mereka berharap.
Smirna telah menunjukkan kualifikasi yang sangat hebat, berbeda dengan jaman kita sekarang ini.  Terlalu sedikit orang mau miskin, sekalipun untuk sebuah kehormatan kerohanian.  Banyak orang justru rela melacurkan diri berkorupsi, menghalalkan segala cara untuk mencari setatus pengakuan, dalam kehidupan sosial.  Pedih, sedih, tapi itulah kenyataannya.  Anehnya, para Pendeta pun merasa kurang Percaya diri (PD), kalau tidak terlalu kaya.  Pendeta sudah kehilangan gairah, sampai tidak tahu arah dan tujuan. 

Miskin Tapi Kaya
Miskin boleh saja, tapi kaya rohani, kaya dalam karya dan pengabdian pada Tuhan, yang bahkan jemaat Smirna rela mati untuk mempertahankannya.  Smirna kaya dalam karya.  Secara aktif Smirna melakukan iman yang mereka pahami, memilih untuk mati, dihukum, daripada tunduk menyembah Kaisar.  Padahal, jika Smirna rela sujud, kehidupan yang layak dan ekonomi yang mapan akan mudah didapat.  Smirna tidak mau terhina karena hal itu.
Kaya tidak salah, bukan dosa, yang salah dan dosa adalah kaya dengan melanggar apa yang Tuhan tetapkan.  Kaya, tapi mengangkangi dan membelakangi Firman Tuhan.  Kaya, tapi menghalakan segala cara.  Karena itu, kepada orang yang secara ekonomi jatuh dan miskin, asal jangan anda miskin karena kemalasan dan kebodohan, yang tidak pernah disesali.  Sudah malas, bodoh, malah dinikmati.  Tetapi jika anda miskin karena kejujuran,karena kebenaran, tetapi merasa seperti sulit berkembang, tertimpa, tertindih dalam pergumulan dan persoalan kehidupan.  Sepertinya pintu-pintu rejeki tertutup, kesempatan hilang,  jangan takut!  Berkarya terus! Anda bukan yang pertama, orang Smirna sampai mati karena itu.  Kita mungkin cukup berkeringat saja bukan? Kita tidak mati gara-gara itu to..?
Smirna, sebuah jemaat dengan keyakinan yang begitu solid, kuat dan hebat. Pantas untuk dikenang dalam sepanjang sejarah gereja. Orang Smirna memang miskin, tapi terhormat.

Kaya Tapi Miskin
Kondisi jemaat di Smirna berbanding terbalik dengan jemaat di Laodikia.  Dalam wahyu 3:17, Laodikia disebutkan sebagai jemaat yang selalu bangga dengan kehidupannya, kota yang hebat, industri wol hitamnya yang terkenal, dan ilmu kedokterannya yang sudah maju.  Ya.. kota kaya yang diidamkan semua orang.  Jemaat di Laodikia notabene adalah jemaat kaya, tapi khilaf untuk peka.  Kendati menjalankan kalender-kalender gereja, natal, paskah dan sebagainya, kemungkinan besar menikmatinya dengan cara yang hebat, tetapi sayang, mereka lupa. Mereka melakukan itu karena kekuatan harta benda yang dimiliki, sehingga rasa kebergantungan kepada Tuhan sudah tidak ada.
Kapital dan modal yang cukup untuk menumbuhkembangkan sasaran dan harapan, dalam pesta pelayanan Kristen yang dikerjakan, membuat Laodikia tidak lagi mawas diri, cenderung menjadi sombong. Perangkap duniawi membuat mereka tidak lagi memiliki kepekaan rohani.  Berharap dapat menyenangkan Tuhan, tapi justru menjengkelkan bagi Tuhan.  Tak heran jika Laodikia disebut orang yang suam-suam kuku.  Beribadah, tapi bergantung pada harta benda.  Hanya menyenangkan diri atau organisasi, dalam kemampuan menyelenggarakan pesta, konser atau apapun namanya yang dirohani-rohanikan. Laodikia kaya dalam harta, tetapi miskin dalam karya. Kasat mata orang bisa melihat karya hebat, dari pesta rohani satu ke pesta rohani lain.  Tetapi karya itu dimata Allah bukan apa-apa. 
Smirna berbeda dengan Laodikia. Smirna miskin tapi kaya, sebaliknya Laodikia kaya tapi miskin. Laodikia miskin dalam pengabdian, karena memang tidak sedang mengabdi kepada Tuhan, hanya mendemonstrasikan kemampuan keberagamaan mereka.  Tidak sedang mengabdi, karena hanya bergantung pada harta dan kekuatan diri.

Kaya Harta, Kurang Rasa.
Laodikia adalah gambaran gereja masa kini, yang tumpang-tidih dalam projectnya, tetapi kurang dalam mengasihi.  Berteriak nama Tuhan, pesta rohani digelar hebat, tapi sebenarnya hanya kepuasan diri dan kebanggaan yang ingin dicapai.  Supaya lebih dikenal sebagai orang yang rohani, penuh cinta kasih, dan enteng menghamburkan rupiah yang dimiliki. 
Miskin, tapi terhormat! Miskin bukan aib, selama bukan karena malas.  Miskin jangan membuat anda terhina.  Yang hina adalah penipuan dan ketidakjujuran, sekalipun anda kaya dan mendapat kedudukan sosial politik karenanya. Miskin, tetapi jangan sampai miskin rasa, hingga tidak mampu merasai  apa yang dirasa orang di sekitar kita.  Apalagi yang dirasakan Tuhan dalam batin-Nya, dan yang diinginkan-Nya dari kita. Miskin, jangan sampai mati rasa, hingga tidak lagi punya rasa malu, membuat orang menjadi terlena dalam kesesatan dan kekacauan yang tak terhenti.  Berbahagia kalau anda kaya, tapi awas, kaya bukan apa-apa, kalau tidak kaya rohani, kaya karya, dan kaya pengalaman pengabdian pada Tuhan. 
Dunia sekarang kaya dalam harta, tapi miskin dalam karya.  Bangsa kita ini terpuruk, miskin harta, miskin masa depan, miskin pula kejujuran dan kebenaran.  Semua diputarbalikan hanya untuk memperjuangkan “aji mumpung”, mumpung masih menjabat!.  Semua orang berambisi mencipta sensasi, menjamin hari -hari, di sini dan nanti, dengan menipu, mengakal-akali dan tidak jujur.  Orang tidak malu untuk itu.  Orang justru malu ketika berbicara keadilan dan kebenaran. Banyak orang tidak malu menyuarakan suara kebencian, suara ketidakjujuran, atau suara kemunafikan.  Kita boleh miskin, tapi jangan hina diri! 
http://reformata.com/news/view/6207/miskin-harta-kaya-rasa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar