Senin, 16 Januari 2012

Maria atau Marta? Atau?

Oleh:  Yuzo Adhinarta

Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Lukas 10:41-42)
Kerap orang Kristen bertanya-tanya: Manakah yang lebih penting: melayani atau mendengar Firman Tuhan? Manakah yang lebih penting: keluarga, kuliah, pelayanan gereja, atau karir? Ada dua asumsi bermasalah di balik pertanyaan-pertanyaan di atas yang kerap mengacaukan penafsiran kita terhadap perikop ini.

Asumsi Bermasalah I: Pertumbuhan Rohani Menyebabkan Perbedaan Kebutuhan Rohani
Asumsi bermasalah pertama adalah asumsi yang mengatakan bahwa semakin rohani seseorang maka semakin berbeda pula kebutuhan rohaninya. Maria masih butuh mendengarkan khotbah, sementara Marta, yang merasa diri lebih advanced, berpikir bahwa khotbah tidak lagi relevan dan yang dia butuhkan adalah justru mengaktualisasikan dirinya sebagai “kakak rohani” bagi Maria. Itu sebabnya Marta memprotes Tuhan Yesus dan bertanya mengapa Maria tidak membantu dirinya, bukankah melayani lebih penting daripada sekedar mendengar?

Apakah benar melayani akan jadi lebih penting daripada mendengar Firman Tuhan jika seseorang semakin bertumbuh dalam kerohaniannya? Jelas sekali bahwa tak seorangpun di setiap tahap pertumbuhan kerohaniannya yang tidak membutuhkan Firman Tuhan. Membagi Firman Tuhan ke dalam beragam jenis menurut level pertumbuhan rohani tidak bisa dilakukan sembarangan. Rasul Paulus pernah mengindikasikan bahwa ada orang Kristen “bayi” hanya bisa menerima makanan lunak dan ada pula yang siap menerima makanan keras. Namun tidak pernah Paulus mengatakan bahwa ada orang Kristen yang tidak butuh makanan dan hanya butuh olah raga. Semua orang butuh makanan rohani, yakni Firman Tuhan (Mat. 4:4).

Keras atau tidaknya makanan rohani, dalam atau sederhananya sebuah khotbah, tidak seharusnya mendefinisikan kebutuhan kerohanian seseorang. Allah memberikan kepada kita Alkitab dengan bagian-bagian yang sangat mudah dimengerti dan bagian-bagian lain yang sampai dua ribu tahun masih diperdebatkan. Bukan berarti bahwa semakin seseorang bertumbuh semakin dia tidak membutuhkan bagian Alkitab yang mudah dimengerti. Agustinus mengatakan bahwa bagian Alkitab yang sulit dimengerti adalah untuk melatih otot rohani kita supaya bertumbuh. Namun semua orang Kristen selalu membutuhkan Firman Tuhan, terlepas dari keras atau tidaknya. Makanan di piring kita tidak semuanya keras, bukan? Sampah memang harus dihindari, namun makanan sebetapapun lunaknya tetap adalah makanan dan baik untuk tubuh. Susu murni bukan hanya baik untuk bayi, namun juga untuk orang dewasa sekalipun. Satu hal lain yang penting, kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa dalam setiap pemberitaan Firman Tuhan, Allahlah yang sedang berbicara, terlepas dari kelemahan dan ketidaksempurnaan pengkhotbah sebagai alat di tangan Allah. Tuhanlah yang menghadirkan setiap orang dalam sebuah kebaktian termasuk diri sang pengkhotbah; Dialah yang berkehendak untuk berbicara kepada setiap orang yang dihadirkanNya di sana melalui pengkhotbah yang sudah dipersiapkanNya.

Jawaban Tuhan Yesus dalam hal ini jelas, yaitu bahwa Maria “telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya.” Maria memilih hal yang penting, yakni yang terutama dikehendaki Tuhan Yesus SAAT Dia mengunjungi rumah mereka. Menyampaikan Firman adalah tujuan utama Dia datang. Respon yang paling pantas (“hanya satu saja yang perlu”) adalah apa yang dilakukan Maria dan bukan yang dilakukan Marta. Apakah ini berarti bahwa mendengar Firman Tuhan lebih penting daripada aktif melayani? Sama sekali tidak! Tuhan Yesus tidak pernah melarang ataupun mengecam Marta karena melakukan apa yang dia lakukan. Tuhan Yesus tidak pernah melarang seseorang untuk melayani, namun jika pelayanan pada akhirnya menjauhkan seseorang dari persekutuan dengan Tuhan, dengan FirmanNya, maka ini menjadi tidak baik. Sesungguhnya orang sedemikian tidak sedang “memilih hal yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya” melainkan “menyusahkan diri dengan banyak perkara” yang tidak pada waktunya dan tempatnya. “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pkh. 3:1).

Asumsi Bermasalah II: Kelompok Melayani vs. Kelompok Dilayani

Asumsi bermasalah kedua adalah asumsi yang mengatakan bahwa tiap orang mempunyai tugasnya sendiri-sendiri, yang satu bertugas untuk melayani aktif dan yang lain melayani secara pasif, atau lebih halusnya, ada yang melayani susah payah dan ada yang melayani kurang susah payah. Para ‘Marta’ melayani secara aktif dan para ‘Maria’ melayani secara pasif, demikianlah Allah menetapkan tugas tiap individu. Lebih celaka kalau ada orang Kristen yang mengatakan, "Hamba Tuhanlah yang harus melayani karena dia dibayar untuk itu! Saya kan sudah memberikan persembahan kolekte tiap minggu, saya sudah melayani, kan? Apa saya masih harus melakukan ini dan itu lagi?" Kelompok yang satu bekerja, yang lain memberi duit!

Pengelompokan yang direfleksikan oleh asumsi bermasalah kedua ini, kalau ditelusuri, sebenarnya berakar pada pandangan hidup (worldview) Yunani kuno yang membagi tingkatan hidup menjadi dua, berdasarkan aktivitas kerja manusia itu sendiri: hidup berpolitik (political life) dan hidup produktif (productive/active life). Orang Yunani di masa sebelum Sokrates menganggap bahwa kekekalan (imortalitas) manusia bisa dicapai dengan cara bekerja dan bersumbangsih di arena publik, yakni melalui aktif dalam politik, menjadi negarawan maupun pahlawan masyarakat, yang dikenang "sepanjang masa" oleh generasi-generasi berikutnya. Sementara itu, hidup produktif adalah ragam hidup yang hanya berfokus kepada kebutuhan materi yang sebenarnya tidak jauh berbeda dari hidup binatang (animal life), yakni bekerja hanya untuk menyambung nyawa, menjaga supaya perapian di dapur tetap menyala.

Sokrates, sebagaimana dilaporkan oleh Plato dalam Phaedo, mendobrak pemikiran ini dan berpendapat bahwa kekekalan sejati manusia hanya ada dalam jiwa manusia, bukan dalam nama baik. Menurut Sokrates, manusia harus membebaskan pikirannya (yang merupakan bagian penting dari jiwa) dari jerat penjara tubuh dengan cara berfilsafat, yakni berkontemplasi (bermeditasi). Bagi Sokrates ada dua macam hidup manusia: 'hidup kontemplasi' (contemplative life) dan 'hidup produktif.'

Pengelompokan semacam ini diteruskan dan dikembangkan sampai ke Agustinus, Aquinas, dan gereja-gereja di abad Pertengahan dalam wujud munculnya biara-biara yang besar di dunia. Kehidupan membiara (monastic life) adalah refleksi dari keutamaan 'hidup kontemplasi' jika dibandingkan dengan 'hidup produktif.'

Pada abad Reformasi, Martin Luther, Calvin, dan para Reformator yang lain melakukan evaluasi ulang dan reformasi terhadap "theologi pekerjaan/panggilan hidup" (theology of vocation) yang diwariskan dari abad-abad sebelumnya. (Bahkan Gereja Roma Katholik di abad XX, sebagaimana dinyatakan oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II, akhirnya juga menerima pandangan Reformasi ini.) Para Reformator menolak pengelompokan hidup a la Sokrates, dan kembali menekankan doktrin penciptaan yang terkubur di abad-abad sebelumnya. Manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kej. 1:26-28), itu sebabnya manusia harus bekerja secara aktif sebagaimana Allah juga terus bekerja secara aktif (Yoh. 5:17; 2Tes. 3:10-11; band. Kej. 2:15).

Pembedaan antara hidup kontemplatif dan hidup produktif sendiri tidak ditolak. Yang ditolak adalah pengutamaan hidup kontemplatif di atas hidup produktif. “Yang penting” bukan lagi ditentukan oleh APA yang seseorang kerjakan, apalagi oleh besarnya uang/kekayaan yang dimiliki atau dikorbankan seseorang, tetapi oleh BAGAIMANA seseorang bekerja atau berkarya dalam hidupnya. Bukan lagi oleh KUANTITAS keuntungan (entah materi atau non-materi) yang didapat (termasuk juga “berapa jiwa yang sudah dimenangkan”??), tetapi oleh KUALITAS hidup seseorang di hadapan Tuhan seperti kesetiaan, ketaatan, dan kerelaan memikul salib. Pekabaran Injil yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dalam kurun waktu kira-kira tiga tahun didengar oleh lebih sedikit jiwa jika dibandingkan dengan pekabaran Injil yang dilakukan oleh Billy Graham di abad XX dan XXI. Namun apakah itu menunjukkan bahwa pelayanan Billy Graham lebih penting daripada pelayanan Tuhan Yesus? Tidak, bukan?! Kuantitas penting, namun kualitas lebih penting. Ini berarti, seorang pendeta dengan ribuan jemaat tidak otomatis mempunyai kualitas hidup lebih mulia karena profesi kependetaannya, ketimbang seorang tukang sapu, pegawai administrasi, atau pedagang di Pasar Atum atau Mangga Dua.

Pandangan Reformasi terhadap Pekerjaan
Gerakan Reformasi mulai menggaungkan kembali prinsip bahwa semua orang percaya terpanggil untuk aktif melayani, semua orang percaya adalah hamba-hamba Tuhan!, atau yang biasa dikenal dengan prinsip "the priesthood of all believers." Tidak ada lagi pembagian kelompok antara yang melayani secara aktif dan yang melayani secara pasif. Luther mengumandangkan prinsip hidup Kristiani sebagai coram Deo (God’s presence), hidup senantiasa di hadirat Allah. Selaras dengan Luther, Calvin menegaskan prinsip negotium cum Deo (business with God), segala sesuatu selalu berkaitan dengan Allah. Menurut Luther dan Calvin, bekerja secara aktif (hidup produktif) bukanlah akhir dari pekerjaan itu sendiri. Semua pekerjaan yang dilakukan manusia dalam masing-masing “pos kehidupan” (life station) harus dilakukan untuk kemuliaan Allah (Soli Deo Gloria). Pengelompokan hidup yang dibuat oleh orang modern, yakni antara yang “rohani dan duniawi” juga tentu tidak sejalan pemikiran Reformasi.

Pos-Pos Kehidupan Kita

Apa yang dimaksud dengan “Pos kehidupan” di sini? Pos kehidupan adalah setiap predikat yang dimiliki seseorang, misalnya: seseorang ayah memiliki pos kehidupan keayahan terhadap anak-anaknya, seorang pegawai memiliki pos kehidupan kepegawaian terhadap perusahaan, rekan sekerja, dan bosnya. Tidak terkecuali pula predikat-predikat lain, seperti ciptaan, Kristen, anak, adik/kakak, tetangga, tuan rumah, majikan, pedagang, pelajar, kepala sekolah, ilmuwan, filsuf, hamba Tuhan, majelis, ketua sinode, panitia, dllsbg. Seseorang tidak mustahil bisa memiliki lima, sepuluh, atau bahkan predikat lebih daripada dua puluh predikat dalam suatu waktu.

Predikat-predikat yang dimiliki seseorang ada beberapa macam:
(1) yang bersifat alamiah (natural) dan tidak berdasarkan pilihan sendiri (involuntary), seperti misalnya: predikat sebagai ciptaan, anak, kakak/adik, Kristen, dll.
(2) yang bersifat lazim (ordinary) dan berdasarkan pilihan sendiri (voluntary), misalnya: predikat sebagai ayah/ibu, istri/suami, tetangga, tuan rumah.
(3) yang bersifat unik berdasarkan panggilan hidup (vocative) dan berdasar pilihan sendiri (voluntary), yakni tidak lain adalah pos kehidupan menurut profesi yang dipilih dan ditekuni, misalnya: profesi sebagai pegawai, pedagang, ilmuwan, filsuf, hamba Tuhan, dll.
(4) yang berdasarkan kebutuhan untuk periode waktu tertentu (occasional) dan atas pilihan sendiri (voluntary), misalnya: predikat sebagai presiden, menteri, panitia, pengurus, majelis, ketua yayasan, relawan korban bencana alam, dll.

Macam pos kehidupan (2), (3), dan (4), karena bersifat sukarela (atas keputusan sendiri), melibatkan pengambilan keputusan. Setiap orang Kristen yang rindu memberikan yang terbaik kepada Tuhan dalam hidupnya yang terbatas senantiasa membutuhkan pertimbangan yang bijaksana dan kebergantungan mutlak kepada Tuhan. Setiap kita HARUS serius bergumul dan menemukan pos-pos kehidupan yang mana, apapun jenisnya, yang melaluinya kita bisa mendayagunakan secara maksimal semua talenta yang Tuhan sudah percayakan. Pertanyaannya bukan lagi “Profesi, jabatan, atau predikat apa yang bisa mendatangkan keuntungan buat saya?,” (atau bisa juga "Pelayanan apa di gereja yang gampang dan tidak butuh pengorbanan banyak yang bisa saya lakukan?") tetapi “Profesi, jabatan, atau predikat apa yang saya bisa lakukan untuk memberi kemuliaan terbesar buat Tuhan?”

Jika menurut Anda dengan diri Anda menjadi seorang Hamba Tuhan atau misionaris bisa membawa kemuliaan yang maksimal buat Tuhan, maka mungkin profesi tersebut adalah profesi terbaik bagi Anda. Jika Anda merasa diberi talenta musik yang besar, mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk menekuni bidang musik dan melayani Tuhan di idang itu. Satu hal yang juga perlu diingat, jangan sampai kita memilih untuk menekuni sebuah pos kehidupan sedemikian rupa sehingga mengorbankan pos kehidupan yang lain yang lebih penting, misalnya dengan lebih mementingkan pelayanan sebagai majelis atau kepanitiaan acara di gereja, yang bersifat sementara (occasional) dengan mengorbankan pelayanan kepada keluarga yang sebenarnya sudah menjadi komitmen seumur hidup.

Dalam hal memilih pos kehidupan ini ada dua kecenderungan yang harus dihindari: terlalu rajin dan terlalu malas, atau terlalu berani dan terlalu takut. Ada semacam orang tertentu yang selalu ingin berbuat banyak, terlibat dalam banyak program, proyek, dan kegiatan, baik di dalam atau luar gereja. Sebaliknya, ada pula semacam orang yang lain yang selalu ingin menghindar dari kegiatan atau aktivitas. Prinsip Alkitab dalam hal ini sangat jelas: Barangsiapa diberi banyak dituntut banyak, barangsiapa diberi sedikit dituntut sedikit (Luk. 12:48). Jangan terlalu percaya diri, jangan pula terlalu rendah diri. Selama kemurnian motivasi untuk memuliakan Tuhan dipertahankan, kecenderungan jenis kedua lebih berbahaya daripada yang pertama.

Mari kita gunakan kesempatan yang ada dengan bijaksana, dan mendayagunakan cita-rasa-karsa dan talenta yang ada semaksimal mungkin untuk Tuhan, itu saja. Mari kita semua aktif melayani, namun bukan aktif sembarangan, melainkan aktif melayani pada tempatnya, sesuai dengan apa yang Tuhan sudah tanamkan dan perlengkapi dalam diri kita. Mari kita buang mentalitas "mencari aman dan nyaman sendiri" dalam hidup kita!

Menyimak prinsip-prinsip yang dijabarkan di atas, tidak mengherankan jika bagi Calvin dilema Marta dan Maria bukan terletak pada apa yang mereka lakukan (hidup produktif atau kontemplatif) tetapi terletak pada kepekaan masing-masing terhadap pos kehidupan/aktivitas tertentu yang dikehendaki Tuhan pada waktu itu. Kualitas melayani Tuhan bukan diukur dari apa yang terlihat (kesibukan, jumlah jabatan, prestasi, dll.), tetapi dari etos kerja (kepekaan, kesetiaan, dan ketaatan kepada kehendak Tuhan). Pendeta yang malas lebih tidak berharga di mata Tuhan daripada angota tim perkunjungan yang setia melayani dengan kasih yang murni. Apa yang dilakukan oleh Marta dan Maria pada saat itu bukanlah hal-hal yang berdosa. Tapi Maria melakukan yang lebih baik daripada Marta karena Maria melakukan sesuatu yang Tuhan kehendaki, pada waktu dan tempat yang tepat. Asal sibuk atau sibuk untuk sesuatu tidak pada waktu dan tempat yang tepat adalah mengenaskan. Menyedihkan! Memilih pos kehidupan yang salah (dan menolak pos kehidupan yang benar) dan mencurahkan semua upaya untuk menggarapnya adalah sama dengan melakukan investasi besar untuk hal yang sia-sia. Bersusah-susah dahulu, tenggelam kemudian. Sangat mengherankan kalau ada orang yang masih mau melakukan hal demikian. Hanya ada dua kemungkinan: akal sehatnya hilang, alias sakit, atau tidak punya akal sama sekali.

Sebagaimana dengan individu-individu, gereja juga perlu memikirkan tentang panggilannya di tengah-tengah masyarakat. Predikat apa yang harus gereja kerjakan di muka bumi ini. Program macam apa yang harus gereja canangkan untuk membawa banyak jiwa datang kepada Tuhan, mendidik jemaat supaya bertumbuh subur imannya, dan mengutus jemaat untuk menjadi berkat buat sekitarnya. Banyak gereja dewasa ini memfokuskan programnya kepada pembangunan fisik, dalam rupa gedung dan fasilitas, baik itu mega-church atau ruko-church. Bukan berarti gedung dan fasilitas itu adalah hal yang jahat dan sama sekali tidak berguna. Namun yang harus ditanyakan adalah apakah proyek pembangunan gedung tersebut adalah yang terutama yang harus dikerjakan? Kalau memang merupakan yang terutama pada saat ini, bersifat mendesak, ya kerjakan dengan setia! Namun jika pembangunan gedung tidak dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat, atau bahkan mengakibatkan diabaikannya pembangunan hidup jemaat, yakni tubuh Kristus yang sesungguhnya, maka ini adalah investasi yang bodoh, boros, dan tidak bertanggung jawab.

Biarlah setiap anak Tuhan dan gereja-gereja Tuhan semakin bijaksana dalam menggunakan kekayaan, talenta, dan sumber daya yang Tuhan sudah percayakan, dan semakin jeli dalam membedakan mana yang terutama dan yang tidak, mana yang harus dikerjakan terlebih dulu dan yang bisa dikerjakan kemudian.

Konklusi dan Refleksi
Kembali kepada pertanyaan-pertanyaan di awal artikel ini:
Manakah yang lebih penting: melayani atau mendengar Firman Tuhan?
Manakah yang lebih penting: keluarga, kuliah, pelayanan gereja, atau karir?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut ternyata kurang tepat. Tidak ada yang lebih penting, semua penting dan harus dikerjakan dengan seimbang, pada waktu dan tempat yang tepat! Seharusnya kita bertanya:
Apakah saya sudah menjadi pendengar DAN pelaku Firman Tuhan yang baik?

Apakah saya sudah menggarap semua pos kehidupan yang Tuhan sudah percayakan secara maksimal untuk kemuliaan Tuhan dan bertanggung jawab? Apakah pelayanan gerejawi yang saya lakukan mengorbankan keluarga saya? Apakah fokus saya kepada karir melalaikan tanggung jawab saya sebagai sesama anak Tuhan yang melayani anggota tubuh Kristus yang lain di gereja? Jangan-jangan selama ini saya terobsesi oleh ambisi, harta, jabatan, prestasi, atau bahkan oleh perasaan rendah diri saya sendiri, dan melalaikan pos kehidupan yang Tuhan tawarkan dan percayakan?

Alangkah memalukan jika seseorang aktif melayani di gereja namun keluarganya terbengkalai. Yang tidak kalah memalukan lagi adalah jika seseorang sedemikian terobsesinya dengan karir hingga melalaikan tanggung jawab pelayanan dalam tubuh Kristus.

Semua pos kehidupan harus digarap dengan seimbang, realistis, bertanggung jawab, dan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan; sesuai dengan waktu dan tempatnya. Kita tahu melakukan ini tidak mudah. Namun janganlah kita lupa bahwa mengikut Tuhan itu satu-satunya gaya hidup yang bernilai kekal (“yang tidak akan diambil dari padanya”) dan yang membawa kebahagiaan sejati bagi setiap orang yang sudah mengecap anugerah Tuhan. Marilah kita garap pos-pos kehidupan yang Tuhan sudah percayakan kepada kita masing-masing. Dengan takut dan gentar, dan hati yang bersandar kepadaNya, kita mohon hikmat dan kekuatan untuk menjadi anak-anak Tuhan yang aktif melayani Tuhan dan sesama di tengah-tengah keluarga, di sekolah, di gereja, dan di manapun kita berada.
Biarlah kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, namun hanya untuk kemuliaan Allah yang Mahatinggi. "Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan" (Rm. 14:7-8). Haleluya!

 http://terangdunia.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar