Senin, 23 Januari 2012

Marilah kepada-Ku

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

  Matius 11:28-30


Pendahuluan
Tema keseluruhan Injil Matius adalah Kerajaan Allah, the Kingdom of Heaven. Injil Matius membukakan tentang Kristus sebagai Raja dan pemegang otoritas tertinggi menata Kerajaan-Nya di tengah dunia dan orang Kristen yg menjadi warga-Nya haruslah tunduk dan taat pada Sang Raja. Pada pasalnya yg ke-11 Matius menegaskan bahwa orang yg mengaku beriman pada Kristus maka hidupnya harus berpusat pada Kristus. Iman Kristen bukan ideologi yg hanya dimengerti sebagai pengetahuan. Tidak! Alkitab menegaskan bahwa iman Kristen bukan percaya kepada Kristus melainkan percaya ke dalam Kristus berarti ada relasi antara manusia dg obyek iman. Dalam bahasa Yunani menggunakan istilah eis berarti memasukkan diri ke dalam obyek yg kita percaya. Sebelum kita masuk dalam klimaks dari Matius pasal 11 ini ada baiknya kita mengingat kembali:
Pertama, Yohanes ingin supaya para muridnya berbalik arah; mereka yg semula mengagungkan Yohanes kini mereka harus beriman pada Kristus. Dan cara yg dipakai Yohanes sangat unik, dia menyuruh para muridnya untuk bertanya langsung pada Kristus dan jawaban yg diberikan Kristus pun sangat unik. Tuhan Yesus meminta para murid untuk melihat dan mendengar enam tanda yg telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dan dari apa yg mereka lihat dan mereka dengar itu mereka harus menyimpulkan sendiri: siapakah Yesus. Inilah cara Tuhan Yesus mengkonfrontasi iman. Iman bukan sekedar sebuah jawaban teologis tetapi iman adalah bagaimana kita memasukkan seluruh pikiran dan pengalaman hidup kita pada obyek iman yg kita percaya. Iman bukan sekedar pengetahuan. Iman merupakan pertemuan pribadi antara pribadi dg obyek iman.
Kedua, Tuhan Yesus mengecam keras kota-kota yg banyak mendapat mujizat tetapi kota itu justru tidak bertobat. Orang hanya mau ekses iman, orang hanya mau berkat saja tapi orang tidak Sang Pembuat mujizat dan celakanya, orang sudah merasa dirinya beriman. Hati-hati, kalau kita salah dalam memahami iman maka itu akan membawa kita pada kebinasaan. Iman Kristen bukanlah iman ekstensi tapi esensi.
Ketiga, Seorang warga Kerajaan Sorga haruslah mempunyai pikiran seperti Bapa sama seperti Kristus, yakni melakukan apa yg menjadi perintah Bapa-Nya. Iman bukan diselesaikan dg nalar yg jenius atau bijaksana duniawi. Tidak! Iman bukan hasil pencerahan pikiran kita tapi iman haruslah diselesaikan dg kesederhanaan dan dg rendah hati mengaku di hadapan Tuhan bahwa kita adalah orang berdosa.
Pada bagian klimaks Tuhan Yesus mengundang setiap orang yg berletih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya dan Tuhan akan memberi kelegaan. Setelah kejatuhan, dunia tidak pernah lepas dari masalah dan sengsara maka undangan Tuhan Yesus ini sangat relevan sampai saat ini. Manusia merasa diri lebih pandai dari Allah, manusia merasa diri berhak sebagai penentu kebenaran. Jadi, kejatuhan manusia itu bukan pada saat manusia makan buah. Tidak! Letak permasalahannya adalah pada masalah positioning – manusia ingin menjadi Allah maka pertanyaan pertama Allah adalah: Adam, dimana kamu? Pertanyaan ini bukan mempertanyakan secara fisik tetapi Allah menanyakan posisi Adam dan Hawa secara spiritual. Dosa menyebabkan manusia mengalami keterkiliran dalam posisi akibatnya kesengsaraan. Sebagai gambaran dari kesengsaraan ini adalah ketika tulang kita terkilir maka saat tulang dikembalikan pada posisi aslinya, kita akan merasakan kesakitan yg luar biasa. Jangan pikir ketika manusia keluar dari posisi asli akan lebih menyenangkan atau manusia lebih hebat. Salah!
Dua efek dasar yg dialami oleh manusia berdosa, yakni: 1) Orang mengalami letih lesu, dan 2) orang akan berbeban berat. Hari ini kita akan merenungkan efek pertama, yaitu letih lesu. Kata “letih lesu“ berasal dari bahasa aslinya “fatigue“ yakni suatu kondisi dimana orang sudah tidak tahan lagi dg beban atau tuntutan yg ada hingga sampailah orang pada suatu titik keputusasaan. Sebuah logam baja mempunyai titik lentur jika kita mengenakan suatu perlakuan melebihi titik lentur, baja menjadi retak dan akhirnya patah; logam tidak dapat kembali seperti bentuk semula. Dosa menyebabkan manusia akan berada dalam kondisi fatigue namun ironis, dalam kondisi demikian manusia tidak mau kembali dan bersandar pada Tuhan tapi malah membuang Tuhan. Salah satu penyebabnya adalah sejak kecil, manusia telah dididik untuk hidup mandiri, artinya orang dapat mengerjakan apapun tanpa pertolongan orang lain.
Orang tidak sadar hal ini justru berakibat buruk, orang tidak mudah percaya pada orang lain, segala sesuatu haruslah ditentukan diri sendiri, setiap keputusan atau masalah haruslah diselesaikan sendiri. Kalau setiap saat harus menghadapi situasi demikikan maka sampailah ia pada suatu titik fatigue dan sampai titik itu kalau orang tidak punya sandaran maka ia akan bunuh diri. Kelelahan ini merupakan kelelahan esensial.
Kelelahan esensial ini juga dialami oleh bangsa Israel namun mereka tidak mau mengakui hal ini, bangsa Israel sangat sombong. Kesombongan ini terpancar jelas dari perdebatan antara para ahli taurat dg Tuhan Yesus (Yoh.8). Para ahli taurat langsung marah ketika Tuhan Yesus menyatakan kalau sesungguhnya, mereka adalah hamba. Orang Yahudi tidak dapat terima dikatakan sebagai hamba, mereka merasa diri sebagai orang merdeka yg berhak menentukan segala sesuatunya sendiri. Bangsa Israel tidak mau menyebut diri sebagai hamba Allah tetapi sebagai anak Allah karena istilah “hamba“ disini menyadarkan mereka akan keterbatasan dirinya dan istilah “anak Allah“ seolah kita mempunyai suatu kebebasan dan otoritas. Jangan salah mengerti dg istilah “anak.“ Istilah “anak“ dibedakan dua, yakni: 1) secara ekstensial, contoh: anak dokter, apakah itu berarti ia dokter? 2) secara esensial, contoh: anak manusia maka dapatlah pastilah ia manusia.
Tuhan Yesus membukakan pada para ahli Taurat ini kalau sesungguhnya mereka bukan anak Allah tetapi yg lebih cocok mereka adalah anak iblis. Sesungguhnya, bangsa Israel berada di bawah jajahan baik secara fisik maupun spiritual. Secara fisik, bangsa Israel adalah jajahan bangsa Roma dan Raja Herodes yg memerintah itu pun bukan orang Yahudi asli tetapi ia adalah orang Idumea. Secara spiritual, bangsa Yahudi adalah jajahan, orang Yahudi mempunyai 2 imam besar, yakni Hanas dan Kayafas. Ironisnya, mereka marah ketika Tuhan Yesus membukakan tentang hal ini. Selama kita berada dalam kuasa penaklukkan dosa, kita akan masuk dalam kondisi fatigue. Bagaimana tidak fatigue kalau kita hidup di tengah dunia berdosa dg cara berdosa? Manusia berdosa mencoba menyelesaikan semua permasalahan dg caranya sendiri, dan celakanya cara yg dipakai adalah cara dunia berdosa maka hal ini membuatnya makin terjepit dalam dosa. Sesungguhnya, manusia menyadari kalau ia berada dalam keletihan yg sangat itu namun yg menjadi pertanyaan adalah kenapa manusia tidak mau kembali pada Tuhan? Apa yg membuat manusia fatigue tetapi tetap mempertahankan fatigue?
I. Manusia merasa berhak menetapkan makna hidupnya sendiri.
Manusia yg sombong ingin menentukan hidupnya sendiri. Sesungguhnya dibalik kesombongan itu, orang tidak mau percaya Tuhan Yesus. Hanya anak Tuhan sejati yg percaya pada Tuhan Yesus dan anak Tuhan yg sejati ini jumlahnya sangat sedikit meski faktanya jumlah gereja sangat banyak, minoritas di dalam minoritas. Kesombongan ini tidak lepas dari pendidikan dunia modern yg mengajarkan anak untuk berkompetisi. Sadarkah kita kompetisi mengakibatkan dua hal: sukses atau kehancuran. Apalah artinya kesuksesan atau kepandaian kalau kita hanya berhasil dalam satu bidang? Maka tidaklah heran kalau kita mendapati orang yg menang dalam lomba fisika tetapi dia tidak lulus sekolah. Kesuksesan dalam kompetisi juga berakibat buruk, orang tidak lagi membutuhkan orang lain apalagi Tuhan sebab orang merasa dapat menetapkan makna hidupnya sendiri.
Pernahkah kita bertanya dalam hati, apakah arti hidupku? Apakah kita melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yg kita ambil dalam seluruh aspek hidup kita? Pada dasarnya, manusia ingin menentukan makna hidupnya sendiri dan Tuhan dijadikan seperti layaknya “pesuruh“ yg harus siap menolong kalau kita menghadapi kesulitan. Perhatikan, kita yg memilih dan mengambil keputusan sendiri maka kita harus berani menanggung resikonya. Jangan salahkan Tuhan kalau ternyata hasilnya tidak seperti yg kita harapkan. Berbeda halnya kalau Tuhan yg memilih dan menempatkan kita  maka Dia pasti akan menolong dan memimpin setiap langkah kita karena disitu, Tuhan ingin menyatakan kemuliaan-Nya melalui kita. Manusia berpendapat dg menentukan makna hidupnya sendiri ia akan hidup bahagia. Pendapat yg salah! Saat itu kita justru masuk dalam kondisi yg sangat lelah sebab kita keluar dari rencana Tuhan, kita berjuang sendiri, segala sesuatu harus kita kerjakan sendiri. Sebagai pelarian dari rasa lelah yg sangat luar biasa ini manusia mencari jalan pintas dg lari pada hal-hal berdosa, seperti free sex, narkoba, minuman keras, dan lain-lain. Orang makin masuk dalam jerat dosa dan sulit bagi manusia untuk keluar. Manusia masuk dalam kondisi totally fatigue.
Biarlah kita mengevaluasi diri, apakah selama ini kita mengalami keletihan? Bertobat dan kembalilah pada jalan Tuhan. Relakanlah hidupmu untuk dibentuk oleh Tuhan. Mungkin, kita merasa tidak suka dg apa yg Tuhan tetapkan tetapi sebagai Kristen sejati kita harus taat. Memang, ketika mengikut Tuhan bukan berarti kita tidak ada beban. Tidak! Tuhan akan memberikan beban, pikullah kuk yg Kupasang sebab kuk-Ku itu enak dan bebanKu pun ringan (Mat. 11:30).
2. Manusia merasa harus berjuang sendiri.
Manusia berpendapat Tuhan adalah sesuatu yang fiktif sehingga Dia tidak dapat menolong ketika manusia dalam kesulitan. Hati-hati, kalau kita mengerti iman secara sepotong-potong berarti kita terjatuh dalam pikiran Feuerbach, Marx, Engels yang menyatakan bahwa agama itu seperti layaknya sebuah candu, pembiusan manusia karena itu, orang tidak perlu beragama toh Tuhan tidak realistis. Manusia harus menentukan segala sesuatu sendiri dan berjuang sendiri. Orang hanya percaya pada Tuhan yang deisme, yakni Tuhan hanyalah pencipta saja dan selanjutnya manusia yang menentukan. Konsep kehendak bebas, free will disini menjadi cetusan yang manusia paling suka.
Adalah kegagalan total manusia yg mencoba merealistiskan konsep free will ini masuk  dalam pengalaman duniawi. Orang baru mau percaya kalau terbukti, yakni apa yg diminta dikabulkan oleh Tuhan. Apakah ini yg dinamakan iman? Bukan! Ini adalah permainan pengalaman. Perhatikan, orang yg mendapat pengalaman rohani akan menjadi menggebu-gebu dan bersemangat melayani karena ia merasa Tuhan itu riil di dalam pengalaman, seperti sakit disembuhkan, miskin menjadi kaya, dan sebagainya. Orang mulai berani menyimpulkan kalau ia mengalami pengalaman rohani berarti Tuhan ada. Pengalaman ini bukanlah pengalaman sejati karena bukan Tuhan yg menetapkan tetapi dia sendiri. Konsep yg salah! Titik absolutnya pindah dari Tuhan kepada diri.
Maka tidaklah heran ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yg manusia pikirkan, orang mulai bertanya-tanya pada Tuhan dan mulai menyalahkan Tuhan. Perhatikan, yg mengabulkan seluruh permintaan kita bukan Tuhan tapi iblis, iblis memberikan iming-iming manis supaya kita masuk dalam jebakannya. Celakanya, orang merasa ia sudah beriman namun sesungguhnya itu bukan iman sejati, ia justru masuk dalam kebinasaan. Hal ini memicu manusia semakin tidak percaya kepada Tuhan. Aspek kedua ini lebih berbahaya dari aspek pertama. Kalau di aspek pertama, manusia tidak percaya Tuhan karena ia belum pernah berpengalaman tetapi  di aspek kedua, setelah orang mengalami pengalaman rohani akan lebih sulit untuk diinjili lagi karena ia telah mempunyai pengalaman negatif dg apa yg dimengerti sebagai Tuhan yg diajarkan kepadanya sebagai Tuhan. Orang-orang yg seperti ini akhirnya jatuh dalam konsep atheisme humanistik. Sesungguhnya, orang telah sampai pada titik fatigue yg sangat parah. Hari ini, banyak orang Kristen yg tertipu merasa dirinya beriman pada Tuhan yg sejati ternyata itu bukan Tuhan sejati tetapi iblis. Orang telah tertipu masuk dalam suatu tipuan, euforia palsu, kepuasan perjuangan diri palsu.
3. Manusia merasa harus mengunggulkan pikirannya sendiri.
Dunia berpendapat kalau kita menuruti kehendak Tuhan malah dianggap sebagai orang bodoh karena kita tidak dapat memanfaatkan kesempatan yg ada. Hati-hati, jangan masuk dalam jebakan iblis yg mengiming-imingi kita dg gula manis tapi di dalamnya racun yg mematikan. Berbeda halnya dg Tuhan, mungkin jalan di depan kelihatan susah namun di balik kesusahan itu ada keindahan menanti. Semakin canggih dunia jebakan yg digunakan juga semakin canggih dan menggiurkan. Tak terkecuali dg Kekristenan juga mencoba menggunakan cara dunia untuk meraih keuntungan. Camkanlah, itu bukan ajaran Kristen. Kekristenan sejati tidak menggunakan cara-cara duniawi yg licik untuk memanipulasi orang lain. Hati-hati dg segala tipuan manis. Apakah tipuan-tipuan seperti ini yg dikatakan sebagai kesempatan? Banyak orang yg mencari kesempatan untuk menyelesaikan segala macam permasalahan yg menimpa hidupnya tapi permasalahan tetap tidak terselesaikan akibatnya orang sampai pada kondisi fatigue. Pada saat kehancuran itu, manusia harusnya bertobat dan kembali pada Tuhan tapi manusia tidak mau bertobat; manusia terbelit dalam jeratan dosa dan sukar bagi manusia untuk keluar dari jeratan iblis.
Jangan biarkan dirimu dipermainkan oleh pikiran-pikiran duniawi tapi hendaklah kita kembali pada Kristus dan mengakui semua kesalahan dan seluruh dosa kita. Seperti gambaran orang yg terkilir, ia tidak akan rela kalau tulangnya dikembalikan ke posisi semula karena sakitnya sangat luar biasa tapi justru lebih sakit kalau tulang itu tidak dikembalikan pada posisi semula. Satu-satunya cara yaitu dipaksa, dikembalikan pada posisi asli, reposisi kembali. Biarlah kita mereposisi hidup kita kembali pada Kristus, yakni: 1) dg rendah hati mengaku segala kebodohan kita maka saat itu, kuk yg diberikan Tuhan baru terasa ringan dan enak, 2) kita harus bereaksi, kita yg berjalan kepada Kristus,  janganlah pernah mencurigai Kristus tetapi curigailah segala macam tawaran iblis. Tuhan pasti tidak akan mencelakakan kita; Dia akan memimpin kita pada jalan-Nya yg indah. Ironis, manusia tidak percaya sehingga orang merasa perlu untuk mempunyai “allah cadangan,“ 3) kita harus menjadi anak yg selalu dengar-dengaran akan Firman Tuhan setiap hari, setiap saat. Hal ini seharusnya konsisten, terus menerus kita kerjakan sepanjang hidup kita. Banyak orang yg bertobat pada saat KKR tetapi setelah KKR kembali pada hal duniawi. Tidak! Pertobatan adalah kembali satu kali lalu berjalan bersama Kristus, daily activity.
Biarlah mulai hari ini kita disadarkan kembali dan mulai menata ulang hidup kita untuk kembali pada jalan Tuhan. Ingatlah akan nama Yesus, Tuhan Yesus selalu memimpin setiap langkah kita dalam dunia yg penuh dg gejolak. Betapa indah hidup yg dipimpin dan berjalan bersama Tuhan, kita tidak akan menjadi fatigue. Puji Tuhan, Tuhan masih mengingat orang-orang sisa dan terbuang ini, remnan untuk dibentuk kembali dan dipakai menjadi saksi-Nya yang menyatakan kemuliaan-Nya. Ingat, nilai tertinggi hidup kita bukan dilihat dari kekayaan atau kedudukan atau kepandaian kita. Hidup kita menjadi bermakna ketika kita berjalan bersama Tuhan dan percayalah, hidup kita akan nyaman dan pada akhirnya ingat, tujuan hidup manusia hanya satu, yaitu memuliakan nama-Nya dan menikmati Dia sepanjang hidup kita. Amin ?

Ringkasan Khotbah : 06 Agustus 2006 GRII Andhika, Surabaya

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar