Minggu, 29 Januari 2012

Eksposisi Lukas 5:17-26

Oleh Pdt. Budi Asali, M.Div. 
LUKAS 5:17-26
 
I) Yesus mengajar di sebuah rumah:
Pada saat Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat yang duduk mendengarkan (ay 17).
Pulpit Commentary mengutip Matthew Henry:
"They are willing that we should preach before them, not that we should preach to them" (= Mereka mau supaya kita berkhotbah di depan mereka, bukan supaya kita berkhotbah kepada mereka).

Renungkan:
Apakah saudara mempunyai sikap yang sama dengan mereka pada waktu mendengar Firman Tuhan?
 

II) Orang lumpuh dibawa kepada Yesus:
1) Ditinjau dari sudut si lumpuh:
 
a) Penderitaannya membawa dia kepada Kristus.
Penderitaan memang sering membawa seseorang kepada Kristus. Tetapi juga sering menyebabkan orang justru lari ke dalam dosa / menjauhi Tuhan. Kalau saudara menderita, yang mana yang menjadi sikap saudara?
b) Ia mau dilayani oleh ke 4 temannya (ay 18).
Ada banyak orang kristen yang sekalipun membutuhkan pelayanan tetapi tidak mau dilayani, karena:
      • sombong.
 
      • sungkan / takut akan merepotkan, dsb.
Ini bukan sikap yang benar. Kita harus mau dilayani!
c) Pada waktu ia mau datang kepada Yesus, ada halangan (ay 19).
Contoh orang lain yang juga dihalangi pada waktu mau datang kepada Yesus adalah:
      • Zakheus (Luk 19:3).
 
      • orang buta dalam Mat 20:30-31.
2) Ditinjau dari sudut 4 temannya:
 
Mereka mau melayani teman mereka dan membawanya kepada Yesus (ay 18). Peristiwa dimana 4 orang membawa orang lumpuh kepada Yesus ini bisa memberi kita beberapa pelajaran tentang pelayanan:
 
a) Ada kesatuan dan ada 1 tujuan yaitu membawa si lumpuh kepada Yesus.
b) Ada kerja sama. Ini mutlak harus ada dalam pelayanan.
c) Ada ketekunan.
      • mula-mula ada halangan (banyak orang menghalangi pintu masuk). Perlu diketahui bahwa kalau kita mau membawa orang kepada Yesus, setan tentu tidak tinggal diam, dan akan memberikan banyak halangan.
 
      • Mereka tidak putus asa, tetapi bertekun untuk menembus halangan. Mereka membawa si lumpuh ke atap, lalu membuka atapnya dan menurunkan si lumpuh di depan Yesus (ay 19). Perlu diketahui bahwa rumah pada saat itu mempunyai atap datar, dan biasanya mempunyai tangga di luar rumah menuju ke atap.
Tyndale Commentary: "Houses usually had flat roofs, often with external staircases leading up to them" (= Rumah biasanya mempunyai atap datar, sering dengan tangga di luar untuk naik ke atap).
Juga atap rumah pada saat itu bisa dibuka tanpa terlalu banyak kesukaran (jangan bayangkan mereka punya atap beton seperti jaman sekarang!).
Penerapan:
Ketekunan, sikap tidak mudah putus asa, sikap tidak mau menyerah / tunduk pada halangan, adalah hal-hal yang harus kita tiru dalam pelayanan kita. Bdk. Pengkhotbah 11:4,6 yang berbunyi sebagai berikut:
"Siapa senantiasa memperhatikan arah angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai. ... Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik".
 
d) Ada kasih kepada orang yang dilayani. Kasih ini menyebabkan mereka mau berkorban tenaga, waktu, perasaan, dsb.
 
Adakah hal-hal ini dalam pelayanan saudara?
 
III) Yesus mengampuni dan menyembuhkan:
1) Yesus ‘melihat’ iman mereka (ay 20a).
 
a) Ini merupakan bukti keilahian Yesus. Ia bisa melihat iman.
Calvin berkata bahwa Yesus melihat iman mereka dari usaha mereka, bukan karena Yesus mahatahu. Tetapi saya berpendapat bahwa Yesus melihat iman mereka karena Ia mahatahu.
Kita juga bisa melihat apakah seseorang beriman atau tidak, misalnya dengan melihat:
      • pengertiannya tentang dasar-dasar kekristenan.
 
      • keyakinan keselamatannya.
 
      • kerinduannya akan Firman Tuhan.
 
      • pengudusan dalam hidupnya dan sikapnya terhadap dosa.
Tetapi karena ‘lalang’ itu mirip dengan ‘gandum’, maka sering kita tidak bisa mengetahui hal ini dengan pasti.
b) Siapa yang dimaksud dengan ‘mereka’ dalam ay 20a?
      • Ada yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan ‘mereka’ hanyalah 4 orang yang mengusung si lumpuh.
William Barclay: "The wonderful thing is that here is a man who was saved by the faith of his friends" (= Hal yang indah ialah bahwa di sini ada orang yang diselamatkan oleh iman teman-temannya).
 
Tetapi pandangan ini jelas salah, karena kalau si lumpuh itu sendiri tidak beriman, ia tidak mungkin mendapat pengampunan dosa (bdk. Ibr 11:6). Kitab Suci tidak pernah mengajar bahwa kita bisa ‘nunut’ pada iman orang lain. Bandingkan juga dengan 12 Pengakuan Iman Rasuli yang selalu berkata ‘Aku percaya’, bukan ‘Kami percaya’.
      • Jadi jelaslah bahwa yang dimaksud dengan ‘mereka’ adalah 4 orang yang mengusung dan si lumpuh sendiri.
2) Yesus mengampuni dosa si lumpuh (ay 20).
 
a) Ini menunjukkan bahwa mungkin sekali orang itu lumpuh karena dosa.
b) Orang itu pasti menginginkan kesembuhan jasmani. Yesus memberikan apa yang sebetulnya lebih dibutuhkan orang itu, yaitu kesembuhan jiwa, sekalipun orang itu tidak meminta hal itu.
c) Ini menunjukkan bahwa Yesus lebih mementingkan kesembuhan rohani / jiwa dari pada kesembuhan jasmani. Apakah kita / gereja kita juga seperti itu?
 
3) Para ahli Taurat dan orang Farisi berpikir dalam hati bahwa Yesus menghujat Allah (ay 21).
 
a) Mereka mempunyai pandangan yang benar, yaitu bahwa hanya Allah saja yang bisa mengampuni dosa. Lalu mereka melihat Yesus mengampuni dosa. Ada 2 kesimpulan yang bisa mereka ambil:
      • Yesus adalah Allah.
      • Yesus menghujat Allah, karena sekalipun Ia adalah manusia biasa yang bukan Allah, Ia mengampuni dosa, dan itu berarti menyamakan diri dengan Allah.
b) Ini adalah ketidaksenangan yang tidak diungkapkan.
Sebetulnya lebih baik mengungkapkan ketidaksenangan dari pada memendamnya, karena memendam ketidaksenangan biasanya berakhir dengan penyebaran gossip pada waktu orang yang tak disenangi itu tidak ada.
 
4) Yesus mengetahui pikiran mereka (ay 22).
 
Dalam 1Kor 2:11 dikatakan bahwa yang tahu pikiran seseorang hanyalah roh orang itu. Tetapi seseorang bisa mengetahui pikiran orang lain:
a) Dengan pertolongan Tuhan. Contoh: nabi-nabi dan rasul-rasul sering bisa tahu pikiran orang lain (Misalnya: Kis 5:1-4 1Raja-raja 14:1-6).
b) Dengan pertolongan setan. Karena itu jangan terlalu heran dan lalu percaya kepada orang yang tahu pikiran saudara atau problem / penyakit saudara. Ia mungkin saja menggunakan kuasa gelap.
c) Kalau orang itu adalah Tuhan sendiri.
5) Yesus menyembuhkan si lumpuh (ay 24-25).
Mula-mula Yesus mengajukan pertanyaan kepada para ahli Taurat dan orang Farisi: "Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah?" (ay 23).
Dari sudut manusia memang gampang untuk berkata ‘dosamu sudah diampuni’. Karena apa? Karena tidak ada buktinya apakah hal itu betul-betul terjadi atau tidak. Tetapi kalau harus mengucapkan kalimat itu dan harus betul-betul terjadi, maka itu jelas mustahil. Juga mengatakan ‘bangunlah, dan berjalanlah’ dan harus betul-betul terjadi, adalah sesuatu yang mustahil bagi manusia.
Tetapi bagaimana kalau ditinjau dari sudut Tuhan? Ada yang mengatakan bahwa bagi Tuhan mengampuni dosa lebih sukar, karena untuk bisa mengampuni dosa Ia harus menjadi manusia dulu dan mati menebus dosa manusia. Sedangkan untuk menyembuhkan penyakit Ia tidak perlu melakukan semua itu. Tetapi kalau penyakit orang itu terjadi karena dosanya, maka jelas bahwa penyakit itu tidak akan sembuh sebelum dosanya diampuni.
Jadi, pertanyaan Yesus dalam ay 23 harus dijawab sebagai berikut: ‘Bagi manusia dua hal itu sama-sama mustahil, sedangkan bagi Allah sama-sama mungkin / bisa dilakukan’.
Arti dari bagian ini: dalam ay 20 Yesus mengampuni dosa. Ini merupakan suatu claim bahwa Ia adalah Allah. Tetapi tidak ada bukti bahwa pengampunan dosa itu betul-betul terjadi. Karena itu, claimnya sebagai Allah juga tidak terbukti. Ia lalu membuktikan claimnya sebagai Allah itu dengan menyembuhkan orang lumpuh itu (ay 24-25). Ini membuktikan bahwa Ia memang adalah Allah, dan kalau Ia memang adalah Allah, maka jelaslah bahwa pengampunan dosa yang tadi Ia ucapkan memang betul-betul terjadi.
6) Pada waktu melihat mujijat itu, orang banyak itu menjadi kagum dan memuliakan Allah. Tetapi mereka toh tetap tidak percaya kepada Yesus! Dari mana kita bisa tahu bahwa mereka masih tetap tidak percaya?
Perhatikan pada bagian paralelnya, yaitu Mat 9:8 yang berbunyi:
"Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian kepada manusia".
a) Jelas bahwa mereka masih tetap menganggap Yesus sebagai manusia, bukan sebagai Allah.
b) Kata ‘manusia’ sebetulnya ada dalam bentuk jamak (Inggris: ‘men’). Yang dimaksud adalah ‘seluruh umat manusia’ (human race). Jadi, mereka menganggap Yesus hanya sebagai salah satu dari ‘human race / umat manusia’.
 
Kesimpulan / penutup:
1) Mujijat tidak mempertobatkan (bdk. Luk 16:27-31).
2) Yesus adalah Allah, yang bukan hanya bisa melakukan mujijat, tetapi bisa / berhak mengampuni dosa! Karena itu:
 
a) Datanglah kepadaNya untuk mendapatkan pengampunan dosa.
b) Berusahalah untuk lebih mengenal Dia, mentaati Dia, melayani Dia, dan memuliakan Dia!
                                                                    -AMIN


http://www.golgothaministry.org/lukas/lukas-5_1-11.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar