Selasa, 24 Januari 2012

Eksposisi Kisah Para Rasul 9:1-19

Nats: Mat. 9:1-19
Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

Hari ini kita akan merenungkan Kisah Para Rasul 9:1-19a, yang mengisahkan tentang pertobatan Saulus dan bagaimana Tuhan mengubah dia dari seorang penjahat menjadi seorang rasul Tuhan. Kisah per­to­batan Paulus ini sangat unik dan penting hingga dicatat sebanyak tiga kali dalam pasal 9, 22, dan 26.  
Dalam Filipi 3:6, Paulus menyebutkan bahwa dulunya sebagai seorang Farisi dia adalah seorang yang taat beragama; sejak mudanya ia menjalankan hukum Taurat dengan penuh ke­sungguhan, dan tidak ada tanda-tanda kemunafikan dalam hidupnya. Ironisnya, di sisi lain, ia seorang penganiaya jemaat Tuhan. Dengan inisiatifnya sendiri, ia meminta surat kuasa kepada imam-imam kepala untuk mengejar dan membinasakan pengikut Kristus (Kis. 26:10-11). Ia menganggap semua itu ia lakukan untuk Allah. Kedua hal ini: kebenaran dalam menaati hukum Taurat tidak bercacat dan menganiaya jemaat Allah merupakan kontradiksi yang tidak dapat didamaikan. Hal ini menunjukkan kega­galan agama di luar Injil Yesus Kristus.    
Di luar Injil Yesus Kristus, orang bisa terlihat begitu taat beragama dan bersungguh-sungguh melakukan perin­tah agama, namun sebenarnya ia belum kembali kepada Allah sejati. Hal serupa juga dilakukan oleh kelompok-kelompok orang yang melakukan pembakaran gereja, pembunuhan terhadap umat Allah dan hamba Tuhan, lalu menganggap mereka sedang melayani Allah dan pasti masuk sorga. Orang-orang Kristen juga bisa jatuh ke dalam kesalahan serupa. Di luarnya seperti beragama, tetapi secara diam-diam berkanjang dalam dosa dan imoralitas yang sangat dibenci Tuhan. Inilah bahayanya rasionalisasi yang selalu dilakukan orang. Kita mempunyai suatu konsep yang salah, lalu menganggapnya sebagai kebenaran dan mengabdikan hidup kita bahkan rela mati untuk hal yang salah itu dan menganggapnya sebagai kebenaran. Dulunya Paulus juga melakukan kebodohan serupa, sampai ia berjumpa secara pribadi dengan Kristus, baru dia disadarkan dan dilepaskan dari kesesatan yang ia lakukan selama ini.  
Inilah signifikansi reformasi. Setelah kehidupan agama berjalan sekian lama, ternyata sudah terjadi penyimpangan yang begitu parah dari ajaran Kitab Suci. Karena itu, dibutuhkan usaha untuk kembali kepada ajaran asli Injil. Semua usaha kita untuk melaksanakan perintah Allah (Taurat) ternyata tidak membawa kita kepada kemerdekaan sejati di dalam Kristus. Kebenaran ini sangat disadari oleh Martin Luther. Ketakutannya akan neraka mendorong dia untuk melakukan berbagai usaha untuk dapat diteri­ma oleh Tuhan. Namun kedamaian yang ia carinya itu tidak pernah diperolahnya, sampai suatu hari, ia disa­darkan oleh kebenaran Injil bahwa keselamatan itu hanya dapat diperoleh sebagai anugerah di dalam Kristus yang telah memenuhi semua tuntutan hukum Allah dengan sempurna dan mencapai kebenaran bagi kita, sehingga melalui iman dalam Kristus kita boleh dibenarkan/diselamatkan. Bagi Martin Luther penemuan rahasia Injil ini membuat dia seperti melihat pintu sorga terbuka bagi jiwanya yang sengsara dan kini menemukan kedamaian sejati dan kepastian keselamatan dalam Kristus.
Berikutnya kita akan melihat apa yang dilakukan Tuhan untuk menolong Saulus (Paulus):
1. Tuhan Yesus mengkonfrontasi Saulus (Kis. 9:3,4)
Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika sudah hampir tiba ke kota itu, tiba-tiba cahaya dari langit yang begitu menyilaukan menyergap Saulus dan rombongannya, sehingga Saulus dan seluruh rombong­an­nya jatuh ke tanah; bahkan Saulus yang menjadi fokus utama konfrontasi Tuhan menjadi buta dan harus dituntun orang untuk masuk ke Damsyik. Tuhan Yesus menam­pakkan diri kepada Saulus dalam kemuliaan dan kuasa-Nya yang berdaulat. Tuhan mengkonfrontasi Saulus untuk menyadarkan dia akan ketakberdayaannya, kerapuhannya; ia tidak lebih hanyalah manusia berdosa yang berada di bawah penghukuman Allah. Akibat konfrontasi Allah ini kini misinya untuk membinasakan pengikut Kristus terhenti.
Puji Tuhan, kalau Tuhan mengkonfrontasi hidup kita sehingga kita disadarkan akan kelemahan kita; itu berarti Tuhan masih mengasihi kita, Ia ingin supaya kita menghentikan segala perbuatan dosa kita. Dia masih beranugerah pada kita dengan tidak membiarkan kita semakin jatuh ke dalam liang dosa semakin dalam. Janganlah kita bersungut-sungut dan menganggap Tuhan tidak baik karena penderitaan yang kita alami, percayalah semua tantangan dan kesulitan yang Tuhan ijinkan kita alami adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, membentuk kita semakin serupa dengan Kristus. Hati-hatilah terhadap sikap yang salah dalam merespons penyataan kuasa Allah yang dahsyat, yaitu melihat kuasa kuasa Tuhan sebagai kesempatan untuk dimanipulasi untuk memuaskan nafsu dosa dan kepen­ting­an diri sendiri. Hal ini tidak terjadi pada Saulus. Ketika kemuliaan Allah yang berdaulat dinyatakan, dia dijadikan rendah hati, tunduk, dan dibuat siap untuk menerima titah Tuhan.
2. Tuhan membongkar semua kesalahan Saulus (Kis. 9:4,5)
Saulus tergeletak tak berdaya di tanah, terkurung oleh terang Ilahi yang menguasai dia tanpa daya. Lalu Tuhan berseru kepadanya, “Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku?“ Ini adalah dakwaan. Saulus merasa heran, kapan dia pernah memusuhi kuasa ilahi dari sorga [Tuhan], yang sekarang berkata telah dianiaya olehnya. Ini suatu paradoks: Jika Pibadi yang mengkonfrontasi dia itu begitu berkuasa sehingga membuat dia tak berdaya di tangan-Nya, lalu bagaimana dia dapat menganiaya Dia? Paulus tidak mengerti, bingung, dan tidak bisa menjawab (alasan mengapa Saulus menganiaya Dia). Hal yang urgen untuk mendapatkan titik terang ialah mencari tahu siapakah Dia ini? Maka Saulus balas bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” dan dijawab, ”Akulah Yesus yang kauaniaya.” Saulus berharap dengan mengetahui identitas kuasa itu, ia dapat mengerti. Namun jawaban itu membuat dia tambah bingung, bahkan jawaban itu sekarang bagaikan ledakan yang lebih dahsyat daripada terang yang membutakan itu.
Seumur hidupnya ia telah berusaha hidup taat kepada perintah Allah. Ia telah mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhan. Sekarang dia berusaha menghapuskan satu sekte yang mempertuhankan seorang rabi yang sudah disalibkan. Yesus sudah mati di salib, para pengikut-Nya harus dibungkam, maka “kebohongan“ dapat segera dihentikan dan tidak menyebar lebih luas. Tetapi sekarang, Pribadi ilahi yang mengkonfrontasi dia mengaku adalah Yesus. Berarti Yesus tidak berakhir dalam kematian, seperti yang ditiupkan oleh para pemimpin agama, melainkan hidup seperti yang diyakini orang-orang Kristen. Dan sekarang Yesus yang bang­kit mendakwanya telah menganiaya Dia. Jelas memang dia mengejar para pengikut Yesus dan berusaha membinasakan mereka, dan sekarang perbuatannya itu dikatakan Yesus yang bangkit sebagai tindakan menganiaya Dia.
Ternyata Yesus yang diyakini orang Kristen itu benar-benar sudah bangkit dari kematian. Jika demikian, Dialah Mesias yang dijanjikan itu. Berarti selama ini dia telah melawan Allah, menentang pekerjaan Allah, dan memberontak kepada Mesias yang dijanjikan itu. Sekarang Saulus bagaikana satu bangunan yang runtuh. Seluruh keagamaannya ternyata salah; doktrinnya salah; misi dan perjuangannya salah. Dia yang berpikir sedang melayani Allah ternyata sedang melawan Allah. Dan sekarang, dia sebagai yang terdakwa yang telah terbukti bersalah. Semua karier agamanya ternyata dibangun di atas dasar yang salah, dan semua yang dilakukan selama ini ternyata sedang menumpuk kesalahan untuk dijatuhi hukuman dari Allah. Dapatlah dibayangkan apa yang kita rasakan jika ternyata seseorang yang kita perlakukan secara kasar dan kurang ajar ternyata adalah seorang mafia besar. Waktu demikian, kita tidak bisa hidup tenang lagi, karena bukan saja diri kita, tetapi mungkin seluruh keluarga kita akan dibantai secara sadis olehnya. Kini, Saulus dengan semua kesalahannya yang kurang ajar kepada Tuhan harus menghadapi Tuhan yang sedang mendakwa dia. Nasibnya sudah hampir dapat diduga, tidak ada harapan.
Sebagian orang menganggap dirinya adalah seorang yang suci karena tidak memakan daging, dan sebagian orang lain menganggap diri orang yang baik karena melakukan sedikit pertolongan orang yang sedang dalam kesulitan. Namun, ketika orang bertemu dengan Tuhan sejati ia baru menyadari bahwa semua kebaikan dan kesalehannya itu bagaikan kain kotor di hadapan Tuhan. Injil membawa kita pada Allah yang sejati; dan pada waktu itu, Allah yang mahakudus akan mengkonfrontasi kita menyingkapkan semua kesalahan seperti yang telah Ia lakukan kepada Saulus.
3. Tuhan menaklukkan Saulus (Kis. 9:6-9)
Dengan kuasa penuh dari imam besar Saulus mau masuk ke Damsyik untuk menghabisi orang-orang Kristen yang tidak berdaya melawan Dia. Tetapi kini, secara fisik, dia adalah seorang pesakitan yang tergeletak tak berdaya di tanah dan sedang dikonfrontasi Allah; dan secara rohani, lebih parah lagi, ia telah terbukti bersalah melawan Tuhan. Ia berada dalam kondisi yang begitu mengerikan. Perhatikan, Allah tidak datang dengan bujuk rayu karena ketakutan kita tidak mau menjadi pengikut-Nya. Allah tidak tidak membutuhkan manusia, sebaliknya kitalah yang membutuhkan Dia. Tetapi sekarang banyak orang mengajarkan Injil yang antroposentris yang menjadikan manusia sebagai yang utama dan menjadikan Tuhan tidak lebih sekedar “pembantu.“ Ini theologi yang salah dan yang hanya akan menghasilkan suatu keagamaan yang kurang ajar! Sebaliknya, Alkitab mengajarkan bahwa Allah datang dengan kuasa kemuliaan-Nya dan kedaulatan penuh kepada Saulus. Tuhan membuatnya sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa di hadapan-Nya. Dia nothing, hopeless, dan buruk. Tidak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh Saulus selain hanya menunggu titah Tuhan dan menyerahkan hidupnya dalam belas kasihan Allah. Injil yang theosentris ketika diberitakan menjadikan hati manusia direndahkan, diremukkan, dan tunduk kepada Allah untuk diubahkan sesuai kehendak-Nya.
Namun Tuhan yang datang dengan segala kemuliaan-Nya juga adalah Tuhan yang penuh kasih karunia. Dia yang mengkonfrontasi Saulus dan meremukkannya adalah Tuhan yang hendak membangun satu hidup yang baru untuk dipakai oleh-Nya. Tuhan mempunyai rencana besar atas hidup Saulus, Tuhan ingin memakainya menjadi “alat pilihan“-Nya. Tuhan akan memakai hidup Saulus secara luar biasa, ia akan diutus untuk menjadi pemberita Injil kepada segala bangsa, dan itu termasuk menderita bagi Tuhan dan demi Injil. Adakah orang yang diberitakan Injil dengan diberi tahu bahwa yang akan dia peroleh ialah penderitaan, lalu dia menyambut Injil dengan gembira? Hampir tidak ada. Tetapi ini terjadi pada Saulus. Ketika me­nyam­but Injil, beriman kepada Tuhan Yesus dan menerima baptisan, dia jelas bahwa kerja keras bagi Injil dan penderitaan sudah menantinya. Tetapi Saulus menerima seluruh rencana Tuhan dengan taat. Meng­apa? Karena dia sudah nothing, sehingga kalau boleh menderita bagi Tuhan itu pun lebih baik baginya. Orang perlu dihancurkan terlebih dahulu untuk dapat ditaklukkan Tuhan dan setelah itu ia baru menyambut setiap titah Tuhan dengan tidak tawar-menawar.
4. Tuhan mengubah dan memakai Saulus (Kis. 9:15,16 & Kis. 26:16-19)
Tuhan sudah mempunyai rencana-Nya yang indah bagi kehidupan Saulus. Tuhan berkata kepada Ananias yang diutus-Nya untuk melayani Saulus, bahwa Saulus adalah “alat pilihan-Nya” untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Tidak main-main, Allah bahkan sudah memilih dia sejak dalam kandungan ibunya, dan mempersiapkan dia melalui berbagai kesempatan pendidikan dan pengalaman untuk mem­persiapkan dia menjadi seorang pelayan yang berkualitas. Dalam rencana-Nya Tuhan bahkan membiarkan Saulus mewujudkan puncak dari kesalahan keagamaannya, yaitu penganiaya yang ganas terhadap umat tebusan-Nya. Program-Nya ialah untuk meremukkan Saulus, membentuk dia menjadi seorang manusia baru. Bahkan semua ini sangat berguna bagi Saulus untuk nantinya merefleksikan kembali keterbatasan Hukum Taurat (Perjanjian Lama), dan penggenapan Injil Yesus Kristus (Perjanjian Baru).
Tidak semua orang rela menyambut rencana Allah bagi hidup mereka. Tapi Saulus menunjukkan respons yang positif. Dalam kesaksiannya pada Raja Agripa, Paulus berkata, “Kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat“ (26:19); dan dalam seluruh hidup pelayanannya, Rasul Paulus merespons panggilan pelayanannya dengan takut dan gentar, rajin, setia, dan habis-habisan melayani Tuhan.
Tuhan telah mengubah hidup Saulus secara total. Perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit menjadi titik balik kehidupannya. Sejak itu, Tuhan telah mengubahnya dari seorang penganiaya jemaat menjadi seorang gembala yang setia dari jemaat Tuhan; dari seorang yang memiliki keagamaan yang natural dan terperangkap dalam kepalsuan agama menjadi seorang manusia baru yang memiliki keagamaan yang penuh kesejatian dalam Kristus. Di kemudian hari kita mendapati Paulus sebagai seorang yang memiliki integritas yang murni, seorang pelayan Injil yang setia, seorang penjabar kebenaran Injil Kristus yang cemerlang, seorang misionaris Kristus yang dipakai secara luar biasa untuk memenangkan banyak orang dan wilayah penting bagi kerajaan Allah. Paulus mewariskan kepada kita eksposisi Injil dan nasihat pastoral, dan teladan kehidupan dan pelayanan yang begitu berharga. Semua ini terjadi, karena Tuhan pernah mengkonfrontasi dia untuk menyetop kehidupan yang salah; karena Tuhan pernah menelanjangi seluruh kesalahannya yang sangat terselubung dalam keagamaan yang penuh rasa percaya diri; karena Tuhan pernah meremukkan dia habis-habisan yang memungkinkan dia dapat dijadikan manusia baru yang siap dibentuk dan dipakai Allah secara leluasa bagi kerajaan-Nya dan kemuliaan-Nya. Pertanyaanya sekarang ialah: apa makna semua ini bagi kehidupan kita? Kiranya anugerah Tuhan juga menjangkau setiap diri kita. Amin.  ?

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071028.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar