Kamis, 02 Februari 2012

KEMURAHAN ALLAH KEPADA KITA

Oleh Pdt. Buby Ticoalu
Nats: Matius 20:1-16


Perikop Matius 20:1-16 yang berbicara tentang kemurahan Allah, ada dalam suatu rangkaian yang sangat luas di dalam Alkitab.  Sebelum membahas perikot ini ada baiknya kita  melihat  konteks  jauhnya  di  PL  terlebih  dahulu,  yakni  Keluaran  33:18-19  yang mencatat permohonan Musa  agar Tuhan memperlihatkan kemuliaan-Nya  kepada Musa.  Tuhan  menjawab  permohonan  Musa  ini  demikian,  “Aku  akan  melewatkan  segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia  kepada  siapa  yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani  siapa yang Kukasihani.”  Kita melihat ada hal yang menarik di sini.  Yang diminta oleh Musa adalah  agar  Tuhan memperlihatkan  kemuliaan-Nya,  tetapi  Tuhan menjawab  bahwa  Ia akan melewatkan  kegemilangan-Nya.    Terjemahan  lain mengatakan,  “Aku  akan  lewat dari  depannya  dan  berseru,  ‘TUHAN,  TUHAN  (Yahwe,  Yahwe,  yang  menunjukkan eksistensi-Nya  yang  tidak  berubah),  Allah  penyayang,  dan  pengasih,  panjang  sabar berlimpah  kasih-Nya  dan  setia-Nya,  yang  menunjukkan  kasih  setia-Nya.  .  .  .’”    Dari jawaban ini jelas sekali bukan kegemilangan yang Allah tunjukkan, tetapi sifat-Nya, dan memang kemuliaan Tuhan menunjukkan sifat-Nya.  Musa meminta Tuhan menunjukkan kemuliaan-Nya,  tetapi  yang  Tuhan  berikan  adalah  menunjukkan  kebaikan-Nya:  Allah pengasih dan penyayang, Allah yang penuh dengan kasih dan karunia.
 Bukankah kasih setia Tuhan memang adalah kata yang dominan dalam Perjanjian Lama?    Kasih  setia  Tuhan  yang  sampai  selama-lamanya  jelas  sekali  terungkap  dalam bagian  ini.    Saya  coba  sederhanakan  demikian.    Bayangkan,  di  sini  Musa  berkata, “Tuhan,  saya  ingin  tahu,  seperti  apa  sih  wajah  Tuhan  itu,  bagaimana  konkretnya?”  Namun jawaban Tuhan bukanlah tentang bagaimana Ia kelihatannya atau bagaimana kita melihat Dia, melainkan  bagaimana Dia  adanya  dalam  keberadaan  dan  sifat-Nya,  yaitu penuh  kebaikan  dan  kemurahan.    Dengan  demikian  kita  dapat  melihat  satu  hal  yang sangat indah, satu hubungan antara kemuliaan dan kebaikan.  Jelas sekali diajarkan dalam   bagian ini bahwa Allah memang mulia, tetapi kemuliaan Allah tidak pernah terlepas dari sifat-Nya, yaitu penuh kebaikan dan penuh dengan kasih karunia.   Kemuliaan bukanlah suatu  kedudukan  atau  reputasi;  kemuliaan  itu  harus  berangkat  dari  sifat  yang  baik. Dengan kata lain, kemuliaan harus terpancar dari sifat yang baik dan penuh kasih.   Dalam  konteks  ini  kita  bisa melihat  bagaimana Daud  di  tengah  pergumulannya apakah ia masih akan hidup atau tidak dan ia sendiri merasakan sudah sampai waktunya (Mzm.  27).   Di  bagian  akhir mazmurnya  ia mengatakan,  “Sesungguhnya,  aku  percaya akan  melihat  kebaikan  Tuhan  di  negeri  orang-orang  yang  hidup.”    Kebaikan  Tuhan bukanlah teori atau ilmu yang kita pelajari dengan segala definisinya.  Bukan itu.  Daud mengatakan  bahwa  ia  akan melihat  kebaikan  Tuhan  di  negeri  orang-orang  hidup.    Itu berarti  kebaikan  Tuhan  adalah  sesuatu  yang  konkret,  sesuatu  yang  dapat  dilihat.    Di bagian  lain  ia  juga berkata dengan  sangat  jelas bahwa kebajikan dan kemurahan Tuhan akan mengikutinya  seumur  hidupnya  (Mzm.  23).   Artinya,  kebaikan Tuhan  itu  dialami sebagai sesuatu yang konkret di dalam kehiudupan orang yang sungguh-sungguh percaya
kepada-Nya.

  Kebaikan dan kasih karunia Tuhan yang konkret  ini kemudian menjadi  semakin jelas seperti sifat pewahyuan, yaitu pada waktu Allah datang menjadi manusia, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu  kemuliaan  yang  diberikan  kepada-Nya  sebagai Anak Tunggal Bapa,  penuh  kasih karunia  dan  kebenaran”  (Yoh.  1:14).    Di  sini  untuk  pertama  kalinya  Yohanes menggunakan  kata  “kasih  karunia”  yang  menunjukkan  bagaimana  firman  itu  menjadi manusia dan kemuliaan Bapa berada di dalam Dia dan Dia penuh dengan kasih karunia.
Kembali kita melihat satu bentuk konkret dari kasih karunia Allah dan itu menjadi lebih jelas lagi di Yohanes 3:16.   Selama saya mempelajari hikayat Yesus ada hal yang sangat menarik yaitu saya tidak  pernah  mendapatkan  Tuhan  Yesus  pernah  mengajarkan  tentang  kasih  karunia.
Bahkan kata  “kasih karunia”  yang digunakan di  injil Yohanes bukan keluar dari mulut Tuhan  Yesus.    Dalam  injil  Lukas  Yesus  pernah  menggunakan  kata  dasar  yang  sama namun pengertiannya berkaitan dengan masalah terima kasih.  Dalam injil yang lain kita dapat menemukan penggunaan kata  ini  tetapi bukan merupakan perkataan Tuhan Yesus.  Namun, meskipun Tuhan Yesus  tidak berbicara  tentang anugerah,  tidak dapat disangkal   bahwa  anugerah  itu  terpancar  dari  seluruh  kehidupan  dan  pelayanan-Nya.    Jelas  sekali melalui  inkarnasi  Allah  menjadi  manusia  kita  melihat  anugerah,  kasih  karunia  Allah.  Jadi,  kasih  karunia  bukan  soal  tampang  atau merek, melainkan  suatu  kehidupan  yang mengejawantahkan kasih karunia  itu.   Contohnya, ketika Tuhan Yesus akan beralih dari dunia  ini  Ia berkata bahwa  tidak  seorang pun  sampai kepada Bapa kecuali melalui Dia.  Filipus,  sama  seperti Musa, dengan beraninya mengatakan,  “Tuhan,  tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.  Itu sudah cukup bagi kami.”  Tuhan Yesus telah menggambarkan Bapa itu dengan luar biasa serta bagaimana intimnya Dia dengan Bapa sehingga Filipus tertarik dan melontarkan kalimat  itu.   Namun Tuhan Yesus menjawab, “Telah sekian  lama Aku bersama-sama  kamu,  Filipus,  namun  engkau  tidak mengenal Aku?    Barangsiapa  telah melihat Aku,  ia  telah melihat Bapa.  .  .  .”   Sifat Allah bukan masalah seperti apa postur-Nya.   Tuhan Yesus mengatakan, kamu  telah melihat Bapa melalui Aku, melalui  segala perbuatan-Ku.   Kita melihat  di  sini  bahwa  kemuliaan  itu  bersangkut-paut  dengan  satu sifat  yang  memancar  ke  luar  dari  satu  pribadi,  bukan  sekadar  satu  kehormatan  atau kedudukan, tetapi benar-benar merupakan suatu sifat.

  Yesus memang tidak pernah mengucapkan kata “anugerah” satu kali pun, kendati demikian,  Lukas  yang  mengaku  telah  menyelidiki  dengan  seksama,  mencatat  bahwa orang-orang  yang  mendengar  perkataan  Tuhan  Yesus  kemudian  berkata,  “Orang  ini berbicara dengan kata-kata yang penuh kasih karunia.”   Bukan Yesus yang mengatakan kasih karunia.  Itu adalah catatan Lukas yang menunjukkan sesuatu yang menyeluruh dan terpadu, merupakan  satu  kesatuan  di  dalam  diri Yesus,  yang menunjukkan  bagaimana kasih  karunia  itu  dihidupi-Nya,  dinyatakan  melalui  kehidupan  yang  menyatu  dengan pengajaran-Nya.

  Kalau kita berbicara tentang kemuliaan Allah dalam surat-surat Paulus maka kita akan menjadi  gentar.   Di  2 Korintus  3:18  Paulus menulis  demikian:  “Dan  kita  semua mencerminkan  kemuliaan  Tuhan.  .  .  .”    Kehidupan  orang  yang  sudah  dilahirbarukan harus memancarkan sinar kemuliaan Allah melalui sifat, tingkah laku, tutur kata dan gaya hidupnya.  Kalau melihat kaitan itu saya menjadi gentar, “barangsiapa yang telah melihat Aku  ia  telah  melihat  Bapa”  kemudian  Paulus  mentransfernya,  “kalau  dunia  melihat engkau  berarti melihat Tuhan.”   Kemuliaan Tuhan  itu  harus memancar  dari  kehiudpan kita.    Betapa  dahsyatnya  pengajaran  Alkitab  yang  menunjukkan  bagaimana  Tuhan   menginginkan  hal  yang  demikian  dari  kita.    Itu  sebabnya  saya  katakan  konteks  ini merupakan  rangkaian yang  sangat  luas.   Perumpamaan yang kita baca menyangkut dua hal  ini,  yaitu  bagaimana  Tuhan  digambarkan  dalam  perumpamaan  ini  dan  bagaimana seharusnya kita atau apa yang Tuhan harapkan dari kita.

  Dengan  latar belakang  ini kita  akan mempelajari perumpamaan di Matius 20:1-16.  Dalam bagian ini diceritakan tentang tuan rumah yang mengundang pekerja-pekerja ke  kebun  anggur.    Tuan  rumah  dalam  perumpamaan  ini mengundang  pekerja-pekerja sejak pagi-pagi sekali dan mereka sepakat dengan upah satu dinar sehari.  Kemudian pada pukul sembilan pagi, pukul dua belas siang, pukul tiga dan pukul lima petang, tuan rumah itu kembali mengundang pekerja-pekerja  lainnya.   Yang menarik dari bagian  ini adalah, kepada  kelompok  pekerja  yang  dipanggil  pada  pukul  lima  petang,  tuan  rumah  itu bertanya,  “Mengapa  kamu  menganggur  saja  di  sini  sepanjang  hari?”    Hanya  kepada kelompok  ini  ia bertanya.   Mereka  lalu menjawab, “”Karena  tidak ada orang mengupah kami.”  Dengan kata lain, seolah-olah mereka hendak berkata, “Kami menganggur di sini bukan  karena  kami  malas,  tetapi  karena  tidak  ada  orang  mengupah  kami.”   Menurut seorang penafsir, mereka adalah orang-orang yang telah ditolak oleh pemberi kerja yang lain sebab dianggap tidak layak.  Dengan perkataan lain, mereka tidak qualified.  Mereka tidak dipekerjakan karena dianggap tidak bisa, hopeless, sampah.  Memang mereka patut dikasihani, menunggu sepanjang hari tetapi tidak ada yang mau memakai tenaga mereka.  Namun Alkitab mencatat bahwa  tuan  rumah  itu berkata, “Pergi  jugalah kamu ke kebun anggurku.”   Artinya,  saya  tidak perduli kamu  seperti  apa.   Kamu memang  tidak punya kualifikasi,  tidak  layak,  tetapi  kamu  juga  pergi  ke  kebun  anggurku.   Luar  biasa  sekali.  Kalau  bukan  karena  kemurahan  Allah,  permisi  tanya,  karena  apa  itu?    Saya  berani mengatakan kitalah orang-orang  itu.   Kita  adalah orang-orang berdosa dan  tidak  layak, tetapi Tuhan berkata, “Kamu juga, mari masuk.”  Betapa besar kebaikan dan kemurahan yang Allah tunjukkan di sini.

  Tetapi persoalan ini menjadi rumit ketika kemudian timbul rasa tidak puas karena mereka semua, pekerja-pekerja itu, mendapatkan upah yang sama.  Pekerja-pekerja yang masuk  terakhir pendapatkan  upah masing-masing  satu  dinar.   Melihat  hal  itu, mereka yang bekerja sejak pagi berpikir bahwa mereka pasti akan mendapat upah  lebih banyak dibanding  pekerja  yang  baru  bekerja  pada  petang  hari.    Namun  ternyata  jumlah  yang    mereka  dapatkan  sama.    Perumpamaan  ini  mempunyai  hubungan  dengan  konteks dekatnya,  Matius  19:27,  ketika  Petrus  berkata  bahwa  ia  dan  murid-murid  lain  sudah meninggalkan  segala  sesuatu  untuk  mengikut  Yesus  dan  apakah  yang  akan  mereka peroleh?  Yesus menjawabnya melalui perumpamaan ini.  Artinya, sangatlah keliru untuk mempersoalkan  upah  atau  apa  yang  akan  kita  dapatkan  di  dalam  kerajaan Allah  yang semata-mata berdasar pada anugerah Allah.  Sangatlah keliru dan menyimpang kalau kita menyadari bahwa semuanya adalah karena anugerah Allah  lalu kita mempersoalkan apa yang akan kita peroleh.  Bukankah anugerah Tuhan sudah dicurahkan kepada kita?   Dari  sini  saya  ingin  mengangkat  tiga  hal  yang  Yesus  ajarkan  melalui perumpamaan  ini.   Pertama, di dalam kerajaan Allah  tidak ada  tempat untuk bersungut-sungut;  tidak  ada  tempat  untuk  merasa  tidak  puas  di  dalam  kerajaan  Allah.    Kalau semuanya cuma anugerah apanya yang  tidak puas?   Tetapi kenyataannya, betapa sering kita menerima segala berkat Tuhan yang berkelimpahan namun ketika mengalami sesuatu yang menurut kita tidak sesuai dengan hati kita, bukankah kita bersungut-sungut?
  Suatu  hari  saya menangis  di  hadapan Tuhan.   Saya  tahu  betapa  besar  anugerah Tuhan  yang  telah  menyelamatkan  dan  memberkati  saya  dalam  pelayanan  selama  ini.  Kemudian  satu waktu,  ketika  saya merasakan  ada  ketidakpuasan  dalam  hati  saya,  saya membaca firman Tuhan tentang ketidakpuasan Israel pada saat mereka keluar dari Mesir.  Mereka baru saja menyeberangi Laut Merah dengan pertolongan dan mujizat Tuhan yang besar,  lalu  tiba di Mara di mana mereka  tidak bisa minum karena airnya pahit.   Mereka merasa  haus  sekali  sehingga  kemudian  bersungut-sungut.    Padahal,  ketika  Tuhan mengeluarkan mereka dari Mesir, bukankah seluruh air di Mesir berada di bawah kontrol Tuhan?    Tulah  pertama  adalah  air  menjadi  darah.    Betapa  berkuasanya  Tuhan.  Kemudian, peristiwa yang baru saja mereka lewati adalah Tuhan membelah Laut Merah.  Mereka menyaksikan kuasa-Nya yang luar biasa dan mereka bisa berjalan di tanah yang kering.   Sungguh  luar biasa.   Tetapi sekarang, hanya karena masalah segelas air mereka bersungut-sungut.  Membaca kisah ini saya seolah-olah melihat cermin di hadapan saya.  Betapa  seringnya  kita  bersikap  demikian.   Berkat melimpah  seperti  lautan  telah Tuhan nyatakan  kepada  kita,  tetapi  tidak  jarang  hanya  karena  seteguk  air  kita  bersungut  di hadapan  Dia.    Di  dalam  kerajaan  Allah  tidak  ada  tempat  untuk  bersungut-sungut.    Anugerah-Nya  terlalu besar bagi kita.   Betapa kerdilnya kita  jika hanya karena  seteguk air kita pun kemudian mengkerdilkan Tuhan yang sudah menyatakan anugerah-Nya.
 
Kedua,  di  dalam  kerajaan  Allah  tidak  ada  tempat  untuk  iri  hati.  Dalam terjemahan  lain  ayat  16  berbunyi  demikian,  “Jahatkah  matamu  karena  aku  ini  murah hati?”    Dengan  kata  lain,  persoalan  iri  hati  adalah  persoalan  bagaimana  cara  kita memandang.    Kenapa  engkau  memandang  demikian  sehingga  menimbulkan  iri  hati?  Kenapa  timbul  rasa  iri  hati  dari  pekerja-pekerja  itu?   Bayangkan  seandainya  kita  ubah sedikit  cerita  ini.   Seandainya  pekerja-pekerja  yang  datang  pertama  dibayar  lebih  dulu, mungkin mereka  akan berterima kasih  lalu pergi.   Sesudah  itu baru pekerja berikutnya sampai yang terakhir.  Jika urut-urutannya seperti itu mungkin tidak akan ada komplain.  Tetapi  kisah  ini  tidak  demikian.   Alkitab mencatat  bahwa  yang  dibayar  adalah mereka yang masuk terakhir sehingga ketika pekerja-pekerja yang masuk lebih dulu melihat upah mereka yang masuk belakangan, maka mereka pikir mereka harus mendapat lebih.  Itu iri hati.   Masalahnya  bukan  karena  upah mereka  kurang  tetapi  karena  tidak  rela melihat orang  lain  mendapatkan  lebih  menurut  pikiran  mereka.    Itu  iri  hati,  evil  eye,  cara
memandang  bukan  dari  kebaikan  tetapi  dari  hati  yang  penuh  iri.    Itu  keluar  dari  hati manusia.   Lukas  mengatakan  mata  adalah  pelita,  maksudnya  adalah  bagaimana  cara  kita memandang.  Itu sebabnya di Matius 18 Tuhan Yesus mengatakan, jikalau matamu jahat, cungkillah keluar.  Kata “mata” yang digunakan di sini bukan dalam bentuk jamak.  Jadi, bukan masalah cungkil matanya tetapi bagaimana cara memandangnya.  Cungkil matamu ke  luar kalau matamu mendatangkan satu skandal, menjadi batu sandungan bagimu dan orang lain.  Kalau pandangan dan cara hidupmu memandang persoalan bisa menjatuhkan orang lain, cungkil itu ke luar, kerat dan buanglah.  Jangan jadi skandal, itu maksudnya.  Di dalam kerajaan Allah  tidak  ada  tempat untuk  iri hati.   Kita  tidak boleh mengatakan kenapa  ia begitu dan begini dan kemudian kita menyusahkan diri sendiri karena merasa mendapat kurang sedangkan orang  lain  lebih.   Tidak ada  tempat untuk  itu.    Ingat, kalau cerita  itu dibalik maka  tidak akan ada masalah.   Masalah  sering kali  timbul karena kita melihat,  dan  bukankah  sering  kali  dalam  hidup  kita  demikian?   Kalau  kita  tidak  tahu, tidak apa-apa,  tidak menjadi  soal.   Tetapi begitu kita melihat  langsung  timbul perasaan sakit hati.  Itu bersumber dari mata kita yang melihat.     Kalau Tuhan Yesus mengatakan  tidak ada  tempat untuk bersungut-sungut,  tidak ada tempat untuk iri hati, maka yang ketiga berarti: dalam kerajaan Allah, puaslah dengan apa  yang  kaudapatkan.    Ini  upahmu,  pergilah.    Puaslah  dengan  apa  yang  kaudapatkan.  Apa  pun  dan  bagaimanapun  yang  engkau  dapat,  puaslah.    Ketika  Tuhan  Yesus mengatakan bahwa yang pertama akan menjadi yang  terkemudian sebenarnya  Ia hendak mengatakan  bahwa  kita  sama-sama  tidak  layak.    Anugerah  Tuhanlah  yang  telah melayakkan kita.  Paulus pun mengatakan hal yang sama yaitu agar kita puas.  Dalam PL,
Daud mengatakan supaya kita merasa puas sama seperti seorang bayi yang menyusu pada ibunya.  Puas karena anugerah Allah, bukan merasa iri hati dan bersungut-sungut.   Salah satu kisah Alkitab yang menyentuh hati saya  terdapat di Kejadian 35 yang mengisahkan  sikap  Yakub  ketika  Rahel,  istrinya,  mati.    Pada  pasal  sebelumnya diceritakan  bagaimana Yakub  bergumul  dengan Allah  di  sungai Yabok  ketika  ia  akan bertemu dengan Esau, Yakub menang dalam pergumulan itu dan di situ namanya diganti menjadi Israel.  Itu adalah sebuah kemenangan rohani yang luar biasa.  Tetapi di pasal 35 dikisahkan  bagaimana Yakub  yang  telah menjadi  Israel,  kemudian  harus menyaksikan istri yang sangat dikasihinya hampir mati pada waktu melahirkan.   Seorang yang begitu perkasa  seperti Yakub harus melihat keadaan  istrinya  tanpa  ia mampu berbuat apa-apa.  Dalam  keadaan  istrinya  yang  sangat  lemah Yakub  hanya  bisa memandang.   Kemudian lahirlah  seorang  anak  laki  yang  menjadikannya  lebih  lemah  lagi.    Dapatkah  kita bayangkan bagaimana Yakub memandang istrinya yang lemah tidak berdaya itu?  Rahel kemudian  menamai  anak  itu  Ben-oni,  artinya  “anak  penderitaanku,”  “son  of  my suffering.”   Namakan anak  itu Ben-oni, kata Rahel, anak penderitaanku.   Tetapi Alkitab mencatat  Yakub  menamai  anak  itu  Benyamin,  anak  dari  kekuatan  tangan  kananku.  Istrinya memberi nama “anak penderitaanku”  tetapi Yakub yang  telah kaya pengalaman dengan Allah, yang sungguh-sungguh telah mengalami anugerah Allah dalam naik turun kehidupannya, seolah mengatakan, tidak.  Bukan Ben-oni, tetapi Benyamin.  Yakub tidak bersungut-sungut dengan kematian istrinya.  Itu adalah soal segelas air.  Tetapi ia melihat dengan puas, inilah anak yang sesuai dengan rencana Allah. Dalam  kehidupan  kita,  ketika  kita menghadapi  pergumulan  ingatlah  bahwa  itu cuma masalah  segelas air dalam anugerah Allah yang  luar biasa.   Ubahkan Ben-oni  itu  menjadi Benyamin.  Biarlah kita tidak bersungut-sungut, tetapi bersyukur atas kemurahan Allah kepada kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar