Kamis, 02 Februari 2012

MENGUCAP SYUKUR ATAS KASIH KRISTUS

Efesus 3:13-21
Oleh Pdt.Bob Jokiman

Tujuan Agar jemaat dapat mengucap syukur pada Tuhan yang maha baik sekalipun dalam kondisi yang sepertinya tidak memungkinkan untuk pengucapan syukur itu. Pendahuluan : Pada suatu hari ketika theolog beken kelahiran Swedia-Jerman; Karl Barth menumpang kendaraan umum di kota Basel, Switzerland; di mana ia akan memberi kuliah. Seorang turis asing turut menaiki kendaraan umum tersebut dan duduk di sampingnya. Keduanya lalu mulai bercakap-cakap. Barth bertanya: "Apakah anda baru di kota ini?" "Ya" jawab sang turis. Barth bertanya kembali:"Apakah ada sesuatu yang khusus yang ingin anda lihat di kota ini?" "Ya" jawabnya sambil melanjutkan:"Saya ingin bertemu dengan theolog yang terkenal Karl Barth. Apakah anda mengenalnya?" "Oh kenal sekali" Jawab Barth dengan penuh gairah "Tiap pagi saya mencukurnya (shave)". Kemudian turis itu turun di depan hotel di mana ia tinggal. Ketika bertemu temannya, dengan gembira ia berkata:"Wah hari ini saya punya pengalaman luar biasa. Saya bertemu tukang cukurnya Karl Barth". Anda tentu tersenyum membaca anekdot tersebut. Dapat anda bayangkan betapa sukacitanya jika turis tersebut dapat bertemu Karl Barth secara langsung. Demikian juga kita jika dapat lebih mengenal kasih Kristus maka kita akan menghadapi hidup ini dengan sikap yang beda, sehingga kita sanggup pula melakukan sesuatu yang berbeda dalam hidup ini. Dalam menyambut hari Thanksgiving tahun ini saya ingin mengajak anda mengukur kasih Kristus melalui surat Paulus kepada Jemaat Efesus 3:13-21; untuk mendorong kita mengucap syukur kepada Allah sekalipun dalam keadaan yang sulit bagi kita untuk mengucap syukur. Khususnya sebagai penduduk California Selatan yang baru mengalami musibah kebakaran yang terbesar dalam 50 tahun terakhir ini. Meskipun secara pribadi kita tidak menjadi korban langsung tetapi kebakaran yang terjadi menjelang akhir bulan Oktober lalu yang oleh presiden Bush dinyatakan sebagai bencana nasional dengan mengakibatkan belasan korban jiwa, ribuan rumah hangus, harta milik yang tak terhitung serta ratusan ribu hektar hutan yang musnah. Tidak berarti bahwa kita melepaskan diri dari trauma, kesedihan dan penderitaan puluhan ribu keluarga di California Selatan ini. Saudara sekalipun berada di tengah puing-puing yang runtuh, keterhilangan yang sulit untuk dilukiskan serta kekuatiran menghadapi masa depan oleh banyak penduduk California Selatan yang menjadi korban keganasan api Oktober itu, apakah kita masih dapat kita mengucap syukur? Dari kesesakan ke pengucapan syukur. Jika anda menyimak nas bacaan tersebut maka anda akan menemukan bahwa perikop tersebut diawali dengan ketidak-nyamanan yang dialami Paulus dan hidupnya :".supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu" dan diakhiri dengan sebuah pujian atau Doxologi kepada Allah:". bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin." (Efesus 3:13,21) Ketika menulis surat Efesus Paulus sedang berada di penjara. Ia dipenjara bukan karena melakukan perbuatan kriminil, ia dipenjara karena ia mengabarkan Injil. Terpenjaranya Paulus tentu menimbulkan banyak reaksi bagi jemaat-jemaat yang pernah dilayaninya. Khususnya Jemaat Efesus di mana Paulus mempunyai hubungan yang akrab. Dalam Kisah Rasul dicatat bahwa Paulus tinggal selama beberapa tahun di Efesus untuk mengabarkan Injil, membentuk jemaat, menggembalakan serta mengajar di balai Tiranus. (Kisah 19:9). Banyak yang mengagumi dan mengasihi Paulus di Efesus, ini terlihat ketika Paulus akan ke Yerusalem di mana ia akan menghadapi penganiayaan. Jemaat dan para pemimpin Gereja Efesus mengadakan perpisahan khusus dengan penuh air mata, "Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi." (Kisah 20:37-38) Kini ketika mereka tahu bahwa Paulus benar-benar berada dalam penjara, tentu membuat mereka sangat sedih dan gelisah. Maka Paulus menulis surat tersebut untuk menghibur mereka. Paulus mengajak mereka untuk bersikap optimis menghadapi keadaan yang pesimistis, Paulus menghimbau dan mendoakan mereka untuk mengubah kesesakan menjadi ucapan syukur! Bagaimanakah kita dapat mengubah kesesakan menjadi pengucapan syukur? Paulus mengajak kita untuk mengukur kasih Kristus. Kasih Kristus yang tak terukur Kepada Jemaat yang mempertanyakan kesesakan yang dialami Paulus, ia mendoakan supaya mereka "bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan." Itulah yang akan "menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih." Efesus 3:18-19, 16 -17 Dengan perkataan lain; melalui penghayatan yang benar akan kasih Kristus mereka disanggupkan untuk mengucap syukur di tengah kesesakan. Sebelum kita menyimak lebih jauh makna "betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus" marilah kita menengok sejenak pernyataan yang mirip dalam Perjanjian Lama yang diucapkan Zofar, orang Naaman, yang berdialog dengan temannya Ayub, yang sedang menderita itu:"Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit--apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati--apa yang dapat kauketahui? Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera. " (Ayub 11:7-9). Melalui pernyataan tesebut jelas sekali terlihat betapa sulitnya kita mengukur hakekat Allah itu, demikian pula dengan kasih Kristus. Measuring Christ's love is impossible, we are attempting to measure theim measurable! Kasih Kristus sangat lebar menjangkau semua suku bangsa di dunia, Israel, Indonesia, Tionghoa, Amerika, India dan sebagainya. Demikian panjangnya menjangkau semua orang yang pernah dan akan hidup dalam sejarah, sejak awal dan akhir sejarah dunia. Kristus adalah Pusat Penyelamatan baik untuk orang-orang Perjanjian Lama yang memandang ke depan maupun Perjanjian Baru yang menenghok ke belakang. Demikian tingginya "melampaui segala pengetahuan", tidak dapat dimengerti dengan rasio kita. Demikian dalam menjangkau orang yang paling berdosa sekalipun seperti Paulus yang menyebut dirinya "yang paling hina di antara segala orang kudus". (Efesus 3:8) Dalam bukunya 'A Call to Spiritual Reformation', Don Carson mengingat kembali bagaimama sebagai anak berusia 10 tahun menderita penyakit serius dan harus dirawat di rumah sakit. Kemudian dilanjutkan dengan perawatan pemulihan selama beberapa bulan di rumah. Ia ingat pada suatu hari ketika terbangun dan menemukan ibunya berada di tepi tempat tidur menangis terseduh-seduh. Ia melihat ibunya dan sesuai kemampuan anak yang baru berusia 10 tahun ia berkata: "Why Mum, you really love me". Perkataan itu sangat menyentuh hati ibunya sehingga ia berlari ke luar kamar dengan banjir air mata. Jika kita bertanya kepada Don Carson apakah pada hari-hari sebelumnya ibunya mengasihi dia, tentu ia akan menjawab "Iya! Ia mengasihi saya". Namun di saat itu ia tiba-tiba sadar dan tahu dengan cara yang baru dan segar bahwa ibunya mengasihi dia. Pengalaman tersebut mengingatkan dia akan kasih ibunya lebih nyata dari sebelumnya. Dengan memahami "betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus' kiranya membuat kita sadar dan tahu dengan cara yang baru dan segar bahwa Kristus sungguh mengasihi kita serta mendorong kita untuk sanggup mengucap syukur di tengah kesesakan hidup ini. Berkat Allah yang tak terduga Jika kita perhatikan keseluruhan surat Efesus kita akan menemukan suatu keunikan yang tidak terdapat dalam surat-surat Paulus lainnya. Keunikan tersebut ialah dipanjatkannya Doxologi di tengah-tengah surat tersebut, bukan pada akhir suratnya seperti yang lazim dilakukannya. Mengapa sampai hal itu bisa terjadi? Tidak lain dan tidak bukan karena Paulus tidak dapat menahan gejolak hati yang begitu merasakan kebesaran serta kemurahan Allah yang luar biasa dalam hidupnya. Selain telah mengalami kasih Kristus yang tak terukur itu, dia juga mengalami bagaimana Allah "dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita" Baik dalam kehidupan maupun pelayanannya. (Efesus 3:20) Pengalaman Paulus telah menunjukkan kebenaran tersebut tatkala ia menulis:" Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa." ( 2 Kor.4:7-9) Semua itu membuktikan bahwa Allah "dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita" Itukah sebabnya Paulus menghendaki di tengah kesesakan yang dialami oleh umat Kristen saat itu, tetap beriman teguh kepada Allah yang "dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita". Jikalau saat ini kita berada dalam kesesakan yang dalam bahasa Inggrisnya diterjemahkan 'tribulation' atau 'suffering', marilah kita merenungkan sejenak hidup kita selama ini. Bukankah terlalu banyak berkat Allah yang tak terduga kita alami? Bandingkan saja hidup kita sekarang ini dengan beberapa tahun lalu, khususnya sebagai perantau-perantau di negara ini. Kalau satu persatu harus disaksikan bukankah halaman yang tersedia tidak akan mencukupi? Jikalau kita harus menghitung semua berkat Allah yang tak terduga yang kita terima selama ini, bukankah semua itu akan mendorong kita untuk memanjatkan Doxologi kepada Allah seperti halnya Paulus sekalipun kita belum selesai mendengarkan khotbah ini ? Saya tidak tahu kesesakan apa yang sedang anda dan keluarga hadapi saat ini. Apakah anda turut menjadi korban kebakaran Oktober tersebut? Saya tidak tahu, namun kesesakan apapun yang anda hadapi hendaklah anda beriman teguh seperti Paulus, percaya tanpa bimbang bahwa Allah "dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita". Tatkala umat Israel menghadapi kesulitan dalam hidup mereka Allah selalu mengingatkan agar mereka tidak melupakan bagaimana Allah telah memimpin,menyertai dan menyatakan kuasa-Nya dalam perjalanan hidup mereka di masa lalu, khususnya melepaskan mereka dari perbudakan Firaun di Mesir seperti yang tertulis dalam Mazmur 105 dan 106. . Demikian juga hendaknya kita, tatkala merasa bahwa perjalanan hidup kita mengalami kesulitan hendaklah kita tidak melupakan bagaimana Tuhan telah memimpin, menyertai dan menyatakan kuasa-Nya dalam perjalanan hidup kita di masa lalu, khususnya melepaskan kita dari perbudakan dosa oleh si iblis dengan mati di kayu salib menggantikan kita sebagai Penebus dan Juruselamat! Percayalah bahwa dalam kehidupan selanjutnya Allah yang "dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita" tidak akan pernah meninggalkan kita. Dengan demikian kita dapat mengubah kesesakan menjadi Doxologi. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar