Selasa, 21 Februari 2012

Berdoa Dalam Gelimang Dosa

Oleh Pdt. Bigman Sirait
Reformata.com - APAKAH setiap doa akan  dijawab? Jawabannya bisa  bervariasi, tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa sikap hati kita sudah merupakan jawaban atas doa kita. Artinya, sikap hati yang buruk maka jawaban hati buruk. Sebaliknya sikap hati yang benar maka jawabannya pun pasti benar. Kalau begitu bagaimana jawaban-jawaban atas doa kita? Dalam  Yesaya 59: 1-2 dikatakan bahwa sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pende-ngaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar…
Allah mengerti dan tahu semua, tetapi tidak mau mendengarkan doa karena kejahatan yang dilakukan oleh manusia, hidup dalam gelimang dosa. Kita mau datang kepada Tuhan tetapi tidak mengampuni orang yang berdosa kepada kita, bagaimana Tuhan mau memperhatikan doa kita? Karena itu, ketika kita berdoa kita perlu mengakui dulu dosa-dosa kita. Sebelum berdoa kita perlu membereskan sikap hidup kita, periksa baik-baik. Bagaimana kita berdoa kalau dosa-dosa kita tidak mau kita akui? Tuhan tutup kuping, sehingga tidak ada dialog, yang ada monolog, pernyataan Saudara dalam doa.
Kalau kita berdoa dengan benar kita pasti mengalami perubahan. Tetapi kita tidak berubah meski  selalu menaikkan doa di dalam gelimang dosa. Kita selalu menaikkan doa tetapi dalam kejahatan yang kita lakukan. Kita tidak pernah mau membereskan persoalan dosa kita dengan Tuhan. Kita memang paling ngotot supaya Tuhan jawab doa kita. Kita tidak mau melihat seperti apa maunya Tuhan. Kita kecewa sama Tuhan, kalau Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita. Tetapi kita tidak pernah mau bertaya apakah kita juga mau melakukan kehendak-Nya?
Apakah doa akan dijawab? Pertama, Tuhan tidak akan mendengarkan doamu karena kejahatan dan dosa-dosamu. Maka kau perlu mengakui dosa-dosamu supaya ada dialog dengan Tuhan. Kalau tidak, doamu cuma monolog, tidak tahu siapa yang mendengarnya.
Jawaban kedua adalah: tidak. Kau sudah minta ini dan itu kepada Tuhan berulang-ulang, tetapi tidak dikabulkan karena kau meminta untuk kepuasan dirimu. Kau meminta bukan untuk kemuliaan Tuhan. Dalam hal seperti ini kita harus hati-hati sekali, itu sebab kita jangan membuka peluang dalam doa kita jika hanya untuk memuaskan diri kita sendiri (baca Yakobus 4: 3).

Jadi jangan pikir, sekali berdoa pasti dijawab Tuhan, kalau tidak dijawab kau ngambek. Anda boleh ngambek dan tinggalkan Tuhan, silakan. Kemuliaan Tuhan tidak berkurang. Kalau DIA mau mencintai kita, itu  luar biasa sekali. Itu kerelaan yang hebat, kasih yang sangat dahsyat. Jadi hati-hati di dalam doa. jangan pikir kalau Saudara punya peranan penting di sana. Tuhan yang penting. Belajarlah dari DIA, senangkanlah hati-Nya, karena DIA adalah puncak doa.
Yang ketiga, kita sudah berdoa tetapi Tuhan bilang “tunggu”. Bisa saja Tuhan menjawab langsung saat itu juga. Tapi Tuhan menyuruh kita menunggu sebagai proses pembentukan kita. Bagaimana kita ini ketika diuji Tuhan, lulus enggak? Tunggunya berapa lama? Itu terserah Tuhan. Tetapi satu hal yang perlu kita ketahui adalah halangan apa pun yang ada, itu dalam kuasa Tuhan. Halangan itu Tuhan ijinkan sehingga jawaban atas doa kita diberikan tepat pada waktunya. Dengan menunggu, iman kita makin teruji dan makin kokoh. Bahkan dalam bersikap terhadap jawaban-jawaban Tuhan kita mesti matang dan dewasa. Jangan kekanak-kanakan, jangan memaksakan kehendak kepada Tuhan. Tuhan tahu apa yang Anda pinta, bahkan sebelum kita minta pun Tuhan sudah mengerti. Mengapa bikin Tuhan seperti tidak mengerti apa-apa? Jadi kita mesti besabar.
Kita mestinya belajar untuk mengiyakan apa yang Tuhan rencanakan. lalu berkata, “Ya Tuhan tolong mampukan kami”. Dengan berserah seperti ini dalam hidup yang penuh krisis  pun kita berjalan bersama Tuhan. Apa yang terjadi Tuhan tahu kok, Tuhan kan tidak pernah salah. Jika saat ini terjadi beragam aksi penganiayaan terhadap umat Tuhan,  itu bukan karena Tuhan sedang dikadali atau dipecundangi oleh orang lain. Tuhan mampu mengendalikan semua, tetapi kita harus belajar. Kenapa itu terjadi, dan kita berkata, “Tuhan Kau tahu mengapa ini terjadi, dan kami tidak tahu, tetapi beri kami pengertian untuk menanggung supaya kami tidak salah di hadapan-Mu”. Begitu mestinya doa kita, sehingga hidup kita menjadi hidup yang benar di hadapan-Nya.

Doa orang benar besar khasiatnya
Yang terakhir, jawaban doa adalah: ya. Dalam Yakobus 5: 16 dikatakan doa orang benar itu besar khasiatnya. Artinya, doa itu akan dijawab “ya”, dan diberikan kepada kita apa yang kita minta karena dinaikkan dengan sikap hati yang benar dan meminta yang benar. Kadang-kadang memang menjadi doa yang unik juga ketika kita bilang begini: “bukan kehendakku tetapi kehendak-MU-lah yang jadi”.  Bila kita mendoakan yang sakit supaya sembuh, itu kehendak kita atau kehendak Tuhan? Kita biasanya bilang itu kehendak Tuhan. Rasul Paulus sakit. Duri dalam dagingnya tidak bisa dicabut, sampai Paulus bilang, “Cukuplah kasih karunia-Mu”. Karena itulah yang dikatakan Tuhan kepadanya “Cukuplah kasih karunia-KU bagimu”. Timotius sakit pencernaan, pasti sudah didoakan Paulus, tetapi disuruh minum anggur. Artinya, di dalam doa yang benar harus dengan cara yang benar konsep yang benar.
Akhirnya kalau kita berdoa yang benar itu, dan dijawab oleh Tuhan, kita tidak perlu besar kepala, dan lantas mengklaim diri spesialis doa orang sakit. Kalau orang yang Anda doakan sembuh dari sakitnya, itu anugerah Allah. Kata kuncinya: Bukan kehendakku, kehendak-MU-lah yang jadi. Berarti yang jadi kehendak Tuhan kan? Jadi jangan klaim diri Anda sebagai spesialis doa orang sakit.
Karena itu, mari kita berdoa dengan tepat dengan benar supaya boleh menyenangkan hati Tuhan dan akhirnya kita mengerti bagaimana DIA memuaskan hasrat hidupmu dan engkau boleh berkata dalam pengalaman hidupmu, “Sungguh Tuhan hidup dalam hidupku”. Amen.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P Tan)
Sumber: http://reformata.com/04974-berdoa-dalam-gelimang-dosa.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar