Rabu, 14 Maret 2012

Mengapa Sebuah Khotbah Tidak Mudah Dimengerti?

Oleh Benny Solihin

Andil Bersama
Pada suatu hari Minggu, sepulang dari kebaktian, seorang ibu ditanya oleh anak gadisnya, “Bu, Pak Pendeta khotbah tentang apa pagi ini?” Ibu tersebut menjawab dengan kesal, “Ibu engga tahu deh dia ngomong apa. Tiap kali Pendeta kita berkhotbah, Ibu engga bisa ngerti. Bicaranya ketinggian.” Sang anak bertanya lagi, “Ketinggian apa ngalor-ngidul?” Dengan gemas si ibu menjawab, “Maksud ibu, ngalor-ngidulnya ketinggian.” Ungkapan serupa ini mungkin telah sering kita dengar walau dengan format kalimat yang berbeda. Intinya, apa yang dikhotbahkan oleh si pengkhotbah dari mimbar tidak bisa dimengerti oleh jemaat. Hal seperti ini pasti sering kita alami, tapi pernahkah Anda berpikir, apa yang menyebabkan sebuah khotbah sering kali tidak mudah dimengerti? Jika kita fair, jawaban pertanyaan ini terletak tidak melulu pada diri si pengkhotbah, tetapi juga pada diri jemaat atau pendengar. 

Andil Pendengar
            Hal pertama yang perlu kita ingat adalah untuk mendengar dan mengerti suatu khotbah dibutuhkan konsentrasi yang baik; konsetrasi yang baik sangat tergantung pada keadaan fisik seseorang. Bila seseorang dalam kondisi fisik yang lelah, mungkin disebabkan kurang tidur karena malam minggu yang terlalu panjang, atau banyak pikiran, stress, maka ia tidak mudah menangkap makna sebuah khotbah. Apalagi, jika ia mendengar khotbah itu di Minggu pagi. Oleh karena itu, perlu suatu wawasan yang baru bagi kita semua bahwa datang ke rumah Tuhan memerlukan persiapan, baik rohani maupun fisik.
            Andil lain dari pendengar yang membuat ia tidak bisa mengerti khotbah yang didengarnya adalah persepsi yang ia miliki terhadap hamba Tuhan yang berkhotbah itu. Persepsi yang tidak baik, misalnya ia sudah mengecap bahwa si pengkhotbah bukan seorang pembicara yang baik, membuat ia, entah sadar atau tidak sadar, enggan untuk mendengar firman yang akan dikhotbahkan. Hasilnya? Tentu saja ia pulang dalam ketidakmengertian. Terlebih lagi bila persepsi negatif itu sudah bersangkut-paut dengan karakter si pengkhotbah, maka sudah dapat kita duga bahwa pendengar itu akan pulang bukan hanya dengan membawa kesia-siaan, tapi juga segudang gerutuan. Iblis sangat pandai mencuri benih firman Tuhan dari diri kita, bahkan sebelum benih itu kita dengar ia sudah mencurinya dengan kunci palsu yang bernama persepsi negatif. Mengingat hal ini, perlu bagi kita untuk datang lebih awal dalam kebaktian yang kita ikuti, guna menenangkan diri dalam saat teduh sekaligus memohon supaya Tuhan membersihkan hati kita untuk siap menerima firman Tuhan, terlepas dari siapa pun yang menyampaikannya.
            Faktor terakhir yang sering tidak disadari oleh jemaat atau pendengar tentang mengapa ia tidak mengerti sebuah khotbah adalah pengetahuan iman Kristennya tidak bertumbuh. Pengetahuan iman Kristen meliputi pengetahuan tentang Alkitab dan doktrin-doktrin kristiani. Salah satu ciri seorang Kristen yang bertumbuh adalah mempunyai kerinduan dan disiplin untuk membaca Alkitab dan buku-buku Kristen yang membangun.  Pengetahuannya akan Allah tidak pernah berhenti, tetapi terus berkembang. Pengetahuan inilah yang memberikan kepadanya kemudahan untuk dapat mengikuti dan mengerti apa yang dikatakan oleh seorang pengkhotbah. Sebagai contoh, suatu hari seorang pengkhotbah di sebuah persekutuan pemuda dengan begitu antusias selama 45 menit mengkhotbahkan tentang kefrustrasian Musa terhadap bangsa Israel yang menyembah patung anak lembu emas. Seusai persekutuan, seorang pemuda bertanya dengan lugunya, “Pak Pendeta, ngomong-ngomong yang namanya Musa itu siapa sih?” Setelah menjawab pertanyaan itu dengan singkat, sang pendeta pulang dengan perasaan frustrasi sama seperti Musa yang frustrasi terhadap bangsa Israel yang bebal. Ketidakmengertian jemaat dalam mendengar suatu khotbah mungkin juga terjadi bukan karena khotbah itu rumit dan tinggi, tapi karena pengetahuan iman Kristen jemaat yang tidak memadai sehingga apa yang didengar tidak nyambung sama sekali. 

Andil Pengkhotbah
Di pihak lain, sebuah khotbah bisa menjadi sulit dimengerti karena faktor yang ada pada diri si pengkhotbah itu sendiri. Pertama-tama, pengkhotbah tidak jelas dengan apa yang mau ia sampaikan. Proses awal pembuatan sebuah khotbah dimulai dengan memilih teks yang akan dikhotbahkan. Setelah itu, dilanjutkan dengan menyelidiki dan menafsirkan berita dari teks tersebut dalam konteks pembaca mula-mula, dalam hal ini adalah orang Yahudi, khususnya dalam Perjanjian Lama, dan Gereja, khususnya dalam Perjanjian Baru. Pada tahap ini seorang pengkhotbah perlu belajar mendengar suara Tuhan dalam teks yang sedang ia pelajari. Fred Craddock berkata bahwa berkhotbah itu pertama-tama berurusan dengan persoalan mendengarkan. Bisa kita bayangkan apa yang terjadi bila seorang pengkhotbah belum mendengarkan dengan jelas suara Tuhan, kemudian ia naik mimbar dan berkhotbah. Hasilnya? Jelas, sama-sama tidak jelas; tidak jelas bagi pengkhotbah dan juga tidak jelas bagi jemaat. 
Kejelasan berita teks, yang muncul dari seni mendengarkan, menuntut seorang pengkhotbah merumuskan amanat teks dari bagian Alkitab yang diselidikinya tersebut dalam satu kalimat utuh yang jelas. Ini yang disebut amanat khotbah. Kemudian, dari situ ia membuat tujuan, dan outline khotbahnya. Memang masih ada proses panjang yang harus dilalui oleh seorang pengkhotbah sebelum ia sampai pada suatu naskah khotbah yang utuh, namun demikian perumusan amanat khotbah, tujuan, dan outline sudah mengarahkan pikiran seorang pengkhotbah untuk berbicara dengan jelas. Mungkin beberapa pengkhotbah merasa cukup dengan ide samar-samar yang ada di benak mereka pada waktu mereka akan berkhotbah, selebihnya mereka mengadalkan pimpinan Roh Kudus. Pertanyaan kita adalah mengapa mereka tidak minta pimpinan Roh Kudus untuk mempersiapkan diri mereka beberapa hari sebelum mereka naik ke mimbar, ketika mereka berada dalam ruang belajarnya atau mereka? Kita perlu kritis membedakan antara ketergantungan yang penuh kepada Roh Kudus dan kemalasan hamba Tuhan untuk duduk mendengarkan suara “Tuannya.” Hamba Tuhan yang demikian mungkin perlu mendengar apa yang Haddon Robinson katakan, “Para pengkhotbah sering menilai terlalu tinggi keantusiasan jemaat dalam mendengar khotbah mereka, tetapi sering menilai terlalu rendah kecerdasan jemaat akan firman Tuhan.”
Hal lain yang membuat sebuah khotbah sukar dimengerti adalah bahasa yang digunakan oleh si pengkhotbah. Bahasa adalah sarana penyampaian ide sekaligus power yang mampu mengubah hidup seseorang. Allah menyatakan diri-Nya dan mengungkapkan maksud-Nya dengan bahasa. Pada Yohanes 1:1, Yesus disebut Firman (logos = word). Yesus datang ke dalam dunia dan mengubah banyak orang dengan kata-kata-Nya. Dengan kata-kata-Nya Ia menyembuhkan orang sakit, menenangkan angin ribut, membangkitkan orang mati, dan mengampuni orang berdosa. Ia menggunakan bahasa yang penuh kuasa dan komunikatif. 
Bahasa yang komunikatif adalah bahasa yang hidup dan bisa dimengerti oleh kedua pihak, baik oleh si pembicara ataupun para pendengar. Dengan kata lain, pembicara dan pendengar menggunakan kosakata yang sama. Sebagian pengkhotbah, entah sengaja atau tidak sengaja, mempunyai kecenderungan menggunakan kata-kata yang begitu wah (yang dalam pengertian si ibu tadi adalah ngalor-ngidulnya ketinggian) sampai-sampai jemaat bingung apa maksudnya. Mungkin sebagian pengkhotbah melakukan hal itu tanpa sadar; tetapi sebagian lainnya melakukan dengan kesadaran penuh untuk mendatangkan nilai tambah bagi dirinya dengan mencoba memberi kesan kepada pendengar bahwa ia mengerti banyak tentang teologi. Padahal dengan melakukan hal seperti itu ia sedang menghalangi pendengar untuk mengerti khotbahnya. 
Ahli-ahli komunikasi tidak pernah berselisih dalam mengatakan bahwa seorang pembicara harus berbicara dengan bahasa pendengar jika si pembicara ingin didengar, dimengerti, dan bisa mempengaruhi orang yang mendengarnya. Pernahkah Anda bertanya kepada seorang astrolog tentang apa yang disebut “bintang jatuh” itu, dan kemudian ia menjelaskan kepada Anda tentang berlaksa-laksa bintang di langit beserta segala riwayatnya dalam bahasa Astrologi? Atau seorang ahli komputer yang menerangkan kepada Anda dengan bahasa program yang rumit ketika Anda bertanya mengapa komputer Anda sering hang. Bagaimana perasaan Anda ketika mendengarkan begitu banyak kosakata asing muncul dan Anda tidak mengetahui artinya? Seperti itulah yang terjadi dengan para pendengar ketika mereka sedang mendengarkan khotbah yang banyak menggunakan bahasa wah. Harus kita akui bahwa banyak kata teologis yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pun artinya masih belum jelas bagi kebanyakan orang Kristen. Kata-kata seperti “karunia,” “nubuat,” “penebusan,” “pengudusan,” “mezbah,” “tabut Allah,” “hari Sabat,” “tahun Yobel,” mungkin artinya dimengerti secara samar-samar. Apalagi kata-kata seperti “sanctification, incarnation, Eksistensialisme, Liberalisme, Postmodernisme, saya percaya tidak banyak jemaat yang paham tentang hal itu. Untuk itu, para pengkhotbah perlu memikirkan secara serius bagaimana cara menyampaikan firman dengan lebih masuk ke bahasa pendengar.
Sementara sebagian hamba Tuhan mencoba untuk membuat hal-hal yang sederhana menjadi rumit dalam khotbah mereka, dalam Injil, Tuhan Yesus telah mencontohkan bagaimana Ia menceritakan hal-hal tentang Kerajaan Surga yang begitu rumit dengan bahasa yang sederhana dari kejadian sehari-hari pada saat itu. Ia berkata, “Hal Kerajaan Surga seumpama orang yang menabur benih yang baik di ladangnya.” Atau “Hal Kerajaan Surga seumpama harta yang terpendam di ladang.” Ia berbicara dari sudut yang telah dikenal akrab oleh pendengar, seperti ladang, gembala, domba, kebun anggur, bunga bakung di ladang atau burung-burung di langit.  Sehingga tidak heran dalam Matius 7:28-29 dicatat tentang kesan pendengar-Nya, “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa ….” Salah satu kuncinya adalah Ia berbicara dengan bahasa pendengar, sebab bagaimana mungkin mereka dapat mengatakan bahwa Ia mengajar dengan penuh kuasa jika mereka tidak mengerti apa yang Ia katakan. 
Yang perlu kita cermati secara kritis adalah membedakan antara bahasa yang rumit dan pemikiran yang mendalam dari sebuah khotbah. Khotbah yang mempunyai pemikiran mendalam dan berbobot tidak selalu menuntut bahasa yang rumit sebagai media komunikasinya. Sebaliknya, penggunaan bahasa yang rumit tidak pernah identik dengan khotbah yang mengandung pemikiran mendalam dan berbobot. Membuat yang sederhana menjadi rumit bukanlah pekerjaan yang sulit, tetapi membuat yang rumit menjadi sederhana adalah pekerjaan seniman besar. Tuhan Yesus telah memperlihatkan seni berkhotbah yang tiada taranya: sederhana, gamblang, dan mengena.

Sama-sama Introspeksi Diri
            Mendengar sebuah khotbah yang kita tidak mengerti apa pesan yang mau disampaikan dapat membuat kita pulang dari gereja bukan dengan membawa shalom atau damai sejahtera tapi pulang dengan membawa sungut-sungut.  Tidak jarang kita menyalahkan pengkhotbahnya.  Di pihak lain, pengkhotbah juga bisa berdalih bahwa kesalahan bukan terletak di atas pundaknya, sebab jemaat tidak mau belajar makan makanan yang keras.  Akhirnya, kedua belah pihak tidak belajar sesuatu apapun untuk memperbaiki keadaan yang tidak baik itu.  Perlu kita sadari bahwa seorang pengkhotbah memerlukan pendengar; demikian juga jemaat memerlukan pengkhotbah.  Tuhan mengutus hamba-hamba-Nya untuk berkhotbah menyampaikan suara-Nya dan Ia memerintahkan jemaat-Nya untuk berkumpul dalam rumah ibadah dan mendengarkan suara-Nya. Kedua belah pihak saling membutuhkan dan terikat pada Allah yang satu; keduanya mempunyai keinginan yang sama: pengkhotbah ingin khotbahnya dapat dimengerti dan jemaat ingin dapat mengerti khotbah hamba Tuhannya. Bila sebuah khotbah tidak bisa dimengerti, biarlah masing-masing kita mengintrospeksi diri sebelum menjatuhkan kesalahan kepada pihak lain.  Semoga Roh yang sama memimpin kita untuk memperbaiki setiap kelemahan kita. (http://bennysolihin.blogspot.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar