Senin, 05 Maret 2012

Nikmati Penyakitmu

Pdt. Bigman Sirait
PTIDAK ada orang yang mau sakit. Apalagi orang modern yang hanya ingin bisa hidup serba mudah dan sistematis, akhirnya benci terhadap  penyakit. Kemajuan teknologi membuat orang mengubah konsep hidupnya. Orang-orang jaman dulu sangat  familiar dengan kepahitan dalam kehidupan, sehingga dalam menyikapi penyakit pasti jauh berbeda dibanding orang-orang masa kini. Jadi, kalau orang-orang jaman sekarang disuruh “menikmati” penyakit, sudah pasti tidak akan ada yang mau.
.
Orang-orang modern tidak akan tersenyum jika sedang sakit. Tidak heran jika banyak orang Kristen yang mengatakan bahwa penyakit itu dari setan, maka harus didoakan dengan menumpangkan tangan atau ditengking. Mereka tidak rela menerima penyakit itu dengan lapang dada. Penyakit itu akan selalu datang menghampiri semua orang, sekalipun sudah berusaha dengan segala cara dan upaya untuk menghindari penyakit, lewat cara hidup cara makan, dsb. Maka tiada jalan lain bagi kita untuk “menikmati” saja penyakit itu.

Dalam 2 Korintus 12: 7–10, diceritakan tentang Rasul Paulus yang bergumul sehubungan dengan adanya duri dalam dagingnya. Dikatakan bahwa penyakit dalam tubuh Paulus, yaitu duri dalam dagingnya, memang sengaja diijinkan oleh Tuhan. Paulus diijinkan Tuhan untuk menderita penyakit tersebut yang terus ada sampai akhir hayatnya. Penyakit ini menjadi satu kesaksian yang indah, yang diijinkan Tuhan  supaya Paulus tidak memegahkan diri atau terjerumus pada keadaan yang bisa saja membuat dia menjadi sombong. Bahwa penyakit itu diperlukan oleh Paulus, hal ini harus dipahami. Mungkin kita berpikir bahwa penyakit tersebut harus dibuang, tetapi Paulus justru merasa perlu menyimpan penyakitnya. Sebab dia sadar kalau penyakit yang diijinkan itu pun untuk menyatakan kemuliaan Allah.
.
Dalam ayat 9, Paulus meminta kesembuhan tapi Tuhan mengatakan, “Cukup kasih karunia-Ku bagimu, karena dalam kelemahanmu, kuasa Tuhan menjadi nyata.” Itu lebih baik bagi Paulus, karena dalam kelemahan, hadirnya kekuatan Allah adalah lebih baik daripada kekuatan dosa yang hadir. Dalam ayat 10, Paulus mengatakan bahwa ia senang dan rela dalam kelemahan.

Waktu kita menyadari bahwa penyakit itu merupakan kehendak Allah, maka kita menemukan satu momentum yang membuat kita merasakan itu sebagai sebuah kenikmatan dan kesenangan. Dengan demikian kita rela menanggung semua rasa sakit itu. Jika penyakit membuat orang lain sedih, maka kita tetap tersenyum di kala menderita sakit. Penyakit itu diperlukan, dan diijinkan Tuhan dalam sepanjang hidup kita. Jika kita sakit, bukan berarti Tuhan tidak mendengar doa kita, tetapi juga bukan berarti setiap penyakit itu kehendak Allah. Yang kita bicarakan saat ini adalah penyakit yang berkaitan dengan kehendak Allah sehingga Allah mengijinkan penyakit itu terjadi. Karena itu perlu kita menyadari hikmat dari Tuhan, bukan buru-buru mencari kesembuhan yang  akhirnya membuat kita tidak bisa menikmati penyakit yang Tuhan berikan itu. Tapi kalau penyakit timbul karena salah sendiri, maka belajarlah baik-baik dan berani menanggung risiko.

Kita juga harus ingat bahwa penyakit bukan aib. Penyakit bukan aib, jika sesuai kehendak Allah. Tetapi kalau tidak sesuai dengan kehendak Allah, itu salah sendiri, obati sendiri lalu minta ampun pada Tuhan. Misalnya hujan sedang turun, tetapi kita tetap keluar rumah tidak memakai payung. Lain halnya jika mau pergi ke pelayanan, tidak memakai payung karena memang tidak punya, maka itu merupakan bagian dari kesulitan penderitaan kita. Dapat dikatakan bahwa kondisi seperti ini merupakan salib yang harus dipikul karena ada kepentingan yang lebih serius untuk dikerjakan sementara fasilitas seperti payung tidak punya.

Proses pembentukan
Penyakit bukan kematian yang ditakuti. Dalam Filipi 1: 21 dikatakan: Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan, lalu kenapa kita harus takut jika sedang sakit? Penyakit bukan kematian yang harus ditakuti, bahkan kematian pun tidak perlu ditakuti.  Ini harus dipahami. Menikmati penyakit itu bukan masalah, tetapi sikap kita terhadap penyakitlah yang menjadi masalah. Kenapa? Karena kita ingin kehendak kita yang jadi supaya sembuh bukannya kita memahami kehendak Allah bahwa penyakit itu harus kita alami. Dan karena kita ingin kehendak kita yang jadi, akhirnya kita  marah dan meragukan Tuhan.

Kita harus sadar bahwa penyakit merupakan proses pembentukan. Jika dipahami, penyakit merupakan proses pembentukan, memberikan pertumbuhan iman. Teta-pi sebaliknya jika kita me-lihat penyakit itu sebuah permasalahan, maka iman tidak bertumbuh. Bahkan penyakit adalah sebuah kehormatan,  kalau kita sanggup menanggungnya di dalam Tuhan. Seperti kata Paulus, “Aku senang dan rela dalam kelemahan, di dalam siksaan, dalam kesukaran dan dalam penganiayaan oleh karena Kristus.”

Karena itu mari kita mengubah konsep yang salah agar kita tidak menyamarkan berkat-berkat yang diberikan Tuhan sebagai sesuatu yang harus menjadi milik orang percaya. Berkisahlah tentang sukses:  sukses berbuah dengan Tuhan, sukses menanggung kesulitan yang ada, sukses hidup jujur, sukses berjalan pada jalan yang benar, sukses tidak berkompromi dengan dunia. Harta itu relatif, bisa ada hari ini, besok tidak ada. Semua orang dunia juga mencari harta benda, mencari kesembuhan. Tetapi yang dimiliki Allah lebih daripada itu yaitu kebenaran dan ketenangan dalam hidup dan dalam jiwanya yang bebas yang tidak dapat ditekan oleh apa pun. Itulah yang penting. Inilah konsep kristiani.

Belajarlah, mungkin Tuhan mau memberikan suatu kesempatan kepada kita yang dapat dipahami sebagai suatu kesempatan untuk menampilkan paradigma baru tentang penyakit di dunia. Dunia ini sakit dalam segala-galanya. Karena itu mari kita beri paradigma baru pada dunia ini dengan berkata: Jangan menangis pada waktu sakit. Karena apa? Karena waktu sakit pun kita bisa senang, bahkan menikmatinya.

Jika kita sedang sakit, berdoalah agar Tuhan menolong. Dengan pertolongan Tuhan itu kita mengejutkan dunia. Dunia terkejut, karena dalam keadaan sakit pun kita tetap bersukacita dan tersenyum. Jangan mengharapkan kesembuhan hanya untuk bersaksi bahwa kita sembuh karena Tuhan. Dalam keadaan sakit pun kita bisa bersaksi dan menjadi alat yang luar biasa. Nikmatilah penyakit dalam paradigma baru dan tersenyumlah dalam kelemahanmu itu, karena itulah yang membangkitkan dan menumbuhkan imanmu. v
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P Tan/http://reformata.com/)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar