Sabtu, 03 Maret 2012

Absennya Allah Dalam Persoalan Hidup Kita

Khotbah Mazmur 42:1-6
Oleh Benny Solihin


Pengantar
Mazmur 42 dan 43 sebenarnya adalah satu mazmur. Ayat 10cd dari pasal 42 sama dengan ayat 2bc dari pasal 43. Tambah lagi, refrain kedua mazmur ini juga sama, yaitu ayat 6, 12, dan 43:5. Namun, karena keterbatasan tempat dan waktu,  khotbah ini hanya berfokus pada  pasal 42:1-6 saja.

Pendahuluan
Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Itulah pribahasa yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi dalam kehidupan seorang ibu yang saya akan cerita ini. Dulu suaminya adalah seorang pengusaha. Mereka hidup bahagia dan berkecukupan. Suatu hari suaminya menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan. Semua usahanya dilepaskan dan dia menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi. Setelah lulus, suaminya melayani sebuah gereja yang sederhana. Income mereka menurun drastis, pengeluaran membengkak, bukan karena mereka bertambah boros, melainkan karena hati mereka tidak pernah bisa tahan melihat jemaat yang berkekurangan.
Pada suatu pagi, suaminya berpamitan untuk pergi pelayanan ke suatu daerah. Tiga jam kemudian, ia menerima kabar bahwa suaminya mendapat kecelakaan, tertabrak sebuah bus yang ngebut dengan kecepatan tinggi. Suaminya terlempar dan meninggal seketika. Tragisnya, menurut beberapa saksi mata, suamiya tertabrak saat menolong seorang pengendara sepeda motor yang menjadi korban tabrak lari. Setelah pemakaman selesai, ibu ini masih berpikir bahwa Allah memiliki rencana lain bagi dirinya. Ia tampak begitu tabah.
Beberapa bulan setelah suaminya meninggal, putri pertamanya, seorang importir alat-alat rumah tangga,  mengalami masalah. Ia ditipu oleh rekan bisnisnya sehingga hampir seluruh modalnya habis, bahkan ia harus menjual rumah dan mobilnya untuk membayar hutang-hutang perusahaannya. Rumah tangga putrinya pun tergoncang dan  berakhir dengan perceraian. Hati ibu pendeta ini tercabik melihat badai kelam yang menimpa putrinya. Namun, ia merasa harus tetap tegar agar dapat menguatkan iman putrinya.
Namun, rupanya kesusahan belum berhenti mengikuti hidup ibu pendeta ini. Suatu hari, ia mendapati putranya yang kuliah di semester terakhir muntah-muntah dan seluruh tubuhnya mengigil di kamarnya. Segera ia melarikan ke rumah sakit. Betapa terkejutnya ia ketika dokter mengatakan bahwa putranya sedang sakau dan telah menjadi pecandu berat narkoba. Hati ibu pendeta ini hancur. Demi putranya, ia terpaksa menjual rumahnya untuk membiaya rehabilitasi putranya dan tinggal di rumah kontrakan yang kecil. Setelah setengah tahun di pusat rehabilitasi, anaknya dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Namun sebulan kemudian, ia ditangkap polisi dengan tuduhan sebagai pengedar narkoba. Pengadilan menjatuhinya hukuman tiga tahun penjara. Hati ibu manakah yang tidak akan patah mengalami persoalan seperti ini? Namun, ia masih berharap bahwa Tuhan akan memulihkan keadaan anaknya.
Kehidupan ibu pendeta ini semakin susah. Perekonomiannya morat-marit. Saudara-saudara kandungnya yang tidak seiman mencemoohkan dia sebagai orang kurang berhikmat karena mengizinkan suaminya menjadi hamba Tuhan. Jiwanya semakin tertekan dan kesehatannya menurun.  Keadaan ginjalnya yang sejak dulu lemah, mulai sering kambuh. Beberapa kali ia harus ke luar masuk rumah sakit. Sampai akhirnya, ia gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seminggu sekali. Runtuhlah seluruh kekuatannya.  
Tengah malam di ranjang rumah sakit, tangisnya pecah. Ia tidak kuat lagi menanggung beban yang terlampau berat. Ia menjerit memanggil-manggil nama suaminya, bukan Allah. Ia sudah terlalu kecewa kepada Allah; baginya Allah tidak dapat dipercaya. Allah kejam membiarkan semuanya terjadi, padahal Dia dapat mencegahnya. Dalam tangisannya ia mengajukan satu pertanyaan kepada Allah, “Di manakah Engkau, Tuhan?”  Tak ada jawaban sama sekali. Ibu pendeta itu hanya mendengar suara tangisannya sendiri sampai ia tertidur dalam kesunyian dini hari.

Halaman I: Absennya Allah dalam Persoalan Hidup Orang Kristen Masa Kini
Apa yang dialami oleh ibu pendeta tadi merupakan kenyataan hidup yang bisa terjadi pada setiap orang percaya. Tuhan kadang kala tidak mudah ditemui. Pengalaman hidup kita mengatakan demikian. Yang lebih membuat frustrasi, justru di saat-saat kita sangat membutuhkan-Nya, Ia absen dari hidup kita. Sebagaimana seorang anak yang lepas dari tangan bapaknya di tengah-tengah keramaian orang, demikianlah kita. Kita merasa sendirian tanpa pegangan. Allah sama sekali tidak peduli dengan apa yang kita alami. Tak jarang saat kita menghadapi situasi-situasi yang sulit, kita meragukan Allah. Seorang pengubah lagu, James Bignon, mengungkapkannya dengan sangat menyentuh dalam lagunya Answer me. Sebagian liriknya berbunyi demikian:

Answer me, sweet Jesus
Don't you hear me calling you?
I need you lord

Lord, I've run out of words to say
All I can do right now is moan
I cannot pray, like all of the sudden
But let me know my prayer's being heard

Lord, I've held on a long time
And all my actions depends upon you
I’
ve been patient and highly understanding
Now I don't
know what there is left to do

Halaman II: Absennya Allah dalam Persoalan Hidup Pemazmur
Pemazmur yang menulis Mazmur 42 ini juga mengalami pergumulan absennya Tuhan dalam kesulitan hidup yang ia alami. Jiwanya gelisah dan tertekan. Melalui lirik-lirik yang memilukan, ia mengungkapkan perasaan hatinya.  Maka, lahirah Mazmur Ratapan ini.  
Besar kemungkinan, saat itu ia dan orang-orang  Israel lainnya menjadi tawanan kerajaan Babel dan hidup dalam pembuangan di sana.  Bila demikian, kita bisa membayangkan bahwa perlakuan yang tidak manusiawi, seperti kerja paksa, makian, dan cemoohan menjadi bagian hidup sehari-hari mereka. Jiwa mereka tertekan. Kebanggaan bahwa mereka pernah menjadi bangsa yang besar, umat kesayangan Allah, hanya  menjadi kenangan. Bertahun-tahun mereka hidup menderita. Berulang-ulang mereka berseru kepada Allah, memohon kemurahan-Nya, tetapi Allah tak menjawab seolah Dia tak lagi hadir dalam kehidupan umat-Nya.
Kerinduan untuk bertemu dengan Allah melanda hati umat Allah dan kerinduan ini diwakili oleh sang pemazmur dalam ungkapannya, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah” (ay. 2). Ketika para pelukis mengambil rusa sebagai obyek lukisan, biasanya mereka cenderung memanjakan mata orang dengan menonjolkan segi keindahannya. Namun, dalam simile ini, saya kira pemazmur tidak bermaksud melukiskan rusa yang demikian; tetapi, seekor rusa yang berada di sebuah hutan yang kering kerontang terbakar kemarau panjang. Tak ada lagi daun yang hijau, tak ada lagi kupu-kupu yang terbang, tak ada lagi burung-burung yang berkicauan, dan tak ada lagi rumput yang hijau, selain petak-petak tanah kering dan retak-retak.
Dalam imaginasi saya, rusa itu berjalan dengan gontai sambil menyeret tubuhnya.  Pandangan matanya sayu penuh kekecewaan; perasaannya tertekan dan gelisah. Telah berhari-berhari ia berjuang menahan haus. Kekeringan menyengat tenggorokan dan seluruh jaringan tubuhnya. Tidak ada kebutuhan lain yang ada di dalam dirinya, kecuali menemukan sungai yang berair. Ia sadar, tanpa air hidupnya akan berakhir.  Itulah pelukisan jiwa yang dilanda kerinduan untuk bertemu dengan Allah.
Ratapan kerinduannya akan Allah diungkapkan lebih lanjut dengan berkata, “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” (ay.3). Sekarang ia melukiskan kerinduannya dengan suatu pengontrasan yang menggugah. Jiwanya yang haus dibandingkan dengan Allah yang hidup. Perkataan “Allah yang hidup” melukiskan bahwa Allah adalah Pribadi yang hidup yang berbeda dengan dewa-dewa Babel yang mati, dan juga menyatakan bahwa Allah adalah sumber kehidupan dari segala sesuatu di mana jiwa pemazmur sendiri bergantung kepada-Nya. Tanpa Allah, ia akan binasa.
Di tengah-tengah keadaan seperti itu ia bertanya, “Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”  Ini merupakan suatu pertanyaan yang lahir karena kebutuhan yang sangat besar dan mendesak. “Bilakah” atau “Kapankah” menunjukkan bahwa kehausan pemazmur sudah berlangsung demikian lama dan permohonannya telah diajukan berulang-ulang. Namun, respon dari Allah tak pernah ada.
Andaikata mazmur-mazmur dalam Alkitab disertai dengan audio CD atau DVD seperti buku-buku masa kini, niscaya kita dapat menangkap mode pengucapannya sehingga bisa ikut merasakan perasaan pemazmur di balik kata-kata yang ditulisnya. Namun demikian, kita tidak perlu berkecil hati. Dalam menafsir mazmur memang diperlukan kecerdasan emosi untuk menerka mode-nya sehingga perasaan pemazmur yang sedang curhat kepada Allah dapat kita ketahui.
Apabila pertanyaan pemazmur, “Bilakah aku boleh melihat Allah?” diekspresikan dengan mode kemarahan atau otoritatif, tentu akan terasa janggal. Nada perintah membuat pemazmur menjadi penguasa dan Allah menjadi bawahannya. Padahal, keadaannya sedang terpuruk dan ia membutuhkan kehadiran Allah. Juga sukar dibayangkan bila pertanyaan ini diekspresikan dengan mode sinis atau pun intimidatif. Jika kita setuju bahwa konteks sejarah mazmur ini adalah masa pembuangan di Babel, pemazmur pasti menyadari siapakah dirinya dan siapakah Allahnya.  Dirinya adalah orang berdosa dan hukuman; sedangkan, Allah adalah Pribadi yang kudus dan berdaulat. Bila Allah tidak berkenan ditemui, tidak seorang pun yang dapat berjumpa dengan-Nya. Jelas, nada intimidatif tidak sesuai dengan konteksnya. Satu-satunya mode yang paling tepat adalah mode permohonan, mode yang mengharapkan belas kasihan seperti seorang pengemis yang mengharapkan sedekah dari seorang tuan yang kaya raya. “Bilakah aku boleh melihat Allah?” lebih mungkin  diucapkan dengan nada minor yang memilukan.
            Sekarang Israel, yang diwakili oleh diri pemazmur, baru bisa menghargai apa artinya bersekutu dengan Tuhan itu. Dulu mereka mengabaikan Allah, tidak menaruh perhatian pada kehadiran-Nya, firman-Nya, teguran-Nya, dan kasih-Nya. Sekarang Israel tiba pada pemahaman bahwa bersekutu dengan Tuhan itu merupakan suatu anugerah. Mereka tidak mempunyai hak apapun  untuk memaksa Allah meresponi mereka.
Pemazmur hanya bisa  mengharap belas kasihan Allah dan meratapi kerinduannya. Ia berkata, “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” Di dalam pembuangan, menerima perlakuan yang tidak enak sudah menjadi hal yang umum, mungkin juga, termasuk tekanan untuk menyembah dewa-dewa orang-orang Babel. Ketika pemazmur berusaha mempertahankan imannya, mereka mencemoohkannya, “Di mana Allahmu?” Cemoohan itu menghancurkan hatinya. Bagai anak ayam kehilangan induknya, ia tidak punya tempat untuk berlindung. Karenanya, ia berkata, “Air mataku menjadi makananku siang dan malam.” Sepanjang hari ia berduka, dirundung kesedihan. Celakanya, Allah pergi entah ke mana.
Daud juga pernah merasakan kehilangan Allah dalam hidupnya, sampai-sampai ia meratap kepada Allah, “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair” (Mzr. 63:2). Di tengah-tengah kesusahannya, Ayub pun pernah tidak dapat melihat kehadiran Allah. Dalam dukacitanya ia mengeluh, “Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia” (Ayb. 23:8-9). Bahkan, Yesus Kritus mengalami absennya Allah justru saat Ia sekarat di salib, saat Ia paling membutuhkan penyertaan dan penghiburan-Nya. Di situlah Ia menjerit, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 15:34).
            Kita bisa memiliki pengalaman yang sama seperti mereka, yaitu perasaan ditinggalkan oleh Allah. Sebagian dari kita mungkin diam-diam menyimpan kepahitan terhadap Allah. Hanya kita merasa  tidak pantas untuk  mengungkapkannya secara terbuka dalam doa-doa kita, ataupun menceritakannya kepada orang-orang dekat kita.  Namun, hal itu pelan-pelan membuat kita semakin jauh dari Allah.
            Saya pikir wajar bila kita pernah merasa kecewa kepada Allah; kita merasa ditinggalkan dan diabaikan oleh Tuhan. Juga wajar bila kita mengeluh dan meratap, mengekspresikan secara verbal perasaan kecewa kita kepada-Nya seperti yang dilakukan oleh pemazmur ini dan ibu pendeta tadi. Saya percaya Allah dapat memahami sepenuhnya kekecewaan, kesakitan, kesedihan, ataupun ketakutan yang kita rasakan. Dia bukan Allah yang mudah tersingung dan pemarah. Namun, jangan cuma berhenti sebatas meratap, iman kita akan terpuruk,  tetapi majulah sambil berharap. Inilah yang dilakukan oleh pemazmur.

Halaman III dan IV:  Belajar dari Pemazmur, Kita mengubah Ratapan Menjadi Genderang Kemenangan

Mengingat masa-masa indah bersama dengan Allah
Setelah sekian lama pemazmur membiarkan jiwanya terpuruk, ia memutuskan untuk tidak membiarkan  keadaannya berlarut-larut. Ia mengarahkan mata imannya kembali kepada Allah dan menembus kegelapan di hadapannya. Karena itu ia berkata, “Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan” (ay. 5).
Apa maksud perkataannya ini? Rupanya pemazmur ingin mengingat masa-masa indah bersama dengan Allah dulu, sebelum bangsa Israel dijajah dan dibuang ke Babel. Pada waktu itu, mereka seringkali mengadakan perayaan atau kebaktian di Bait Allah, di Yerusalem.  Sebagai salah satu penyanyi dari bani Korah, ia memimpin umat Israel berjalan ke rumah Tuhan. Dalam kepadatan umat yang berduyun-duyun datang untuk bersembahyang, ia berjalan mendahului mereka dengan sorak sorai dan nyanyian syukur, melangkah untuk bertemu dan menyembah Allah. Di sana Allah telah menanti mereka, seperti seorang bapak menanti kedatangan anak-anaknya. Kehadiran dan penerimaan Allah mendatangkan sukacita besar bagi umat-Nya. Allah bukanlah Allah yang dingin, acuh tak acuh, tak peduli pada apa yang dialami oleh umat-Nya. Sebaliknya, Ia adalah Allah yang hangat, menikmati persekutuan, dan penuh perhatian pada umat-Nya.  Inilah saat-saat manis bersama dengan Allah.
Mengenang saat-saat manis bersama dengan Allah penting bagi pemazmur dan juga bagi kita, khususnya saat jiwa kita gundah gulana dan meragukan kasih Allah. Kenangan ini memaksa kita melihat lagi “album foto” kenangan kita dengan Allah. Ada banyak momen-momen indah yang telah kita lewatkan bersama-sama dengan-Nya. Saat-saat di mana kita merasa kagum kepada pribadi-Nya, kasih-Nya, kebaikan-Nya. Tak ada keraguan sedikit pun bahwa Ia adalah Allah yang selalu menepati janji-Nya. Nah, kenangan-kenangan manis inilah yang akan menjadi starting step mengembalikan iman kita kepada-Nya.
Setiap kita pasti mempunyai “album foto” kenangan bersama dengan Allah. Begitu juga dengan saya. Setelah 34 tahun bergaul dengan Allah, “album foto” itu bertambah banyak. “Foto-foto” itu mengisahkan cerita yang berbeda-beda, tetapi pesan yang dikandungnya sama: Allah mengasihi saya. Saya masih ingat tatkala saya baru menjadi orang Kristen, suatu pagi saya mengendarai motor saya untuk mengikuti ujian negara. Di tengah jalan, tiba-tiba motor itu mogok. Saya telah berusaha keras untuk menghidupkannya kembali, tetapi tak berhasil. Keringat menetes membasahi sekujur tubuh saya. Saya melihat jam tangan saya, sepuluh menit lagi ujian akan dimulai. Saya duduk di trotoar dalam kebingungan. Apa yang harus saya perbuat? Kalau saya menitip motor saya pada seseorang yang tidak saya kenal, saya kuatir motor itu akan hilang. Kalau saya mendorongnya sampai ke tempat ujian, saya akan sangat terlambat. Dalam kebingungan terlintas suatu pikiran, “Mengapa tidak berdoa? Bukankah sekarang saya mempunyai Tuhan yang berkuasa atas segalanya?” Namun, saya masih ragu. Saya percaya Tuhan itu Maha Kuasa, tetapi apa urusannya dengan motor saya? Namun, karena tidak ada jalan lain, saya mencoba untuk berdoa, “Tuhan saya mau ujian, tapi motor saya mogok. Mau enggak Tuhan memperbaiki motor saya? Tolong ya, Tuhan. Dalam nama Yesus, Amin.” Segera setelah itu, saya menghampiri motor saya dan mulai menstarterya. Apa yang terjadi? Ajaib, motor itu hidup kembali. Tanpa membuang waktu, saya kebut motor itu dan sampai ke tempat ujian.
Kenangan manis itu saya jepret dalam kamera ingatan saya. Setiap kali saya melihatnya lagi, saya selalu berkata pada diri saya sendiri,  “Tuhan itu sangat mengasihi saya, sampai-sampai Ia rela menjadi montir saya.”  Ini adalah salah satu “foto” kenangan saya bersama dengan Allah. Bila saya melihat “foto-foto” kenangan yang lain, hati saya penuh dengan rasa haru atas kebaikan Allah yang melimpah. Hal ini sangat menolong saya untuk tetap percaya kepada Allah, khususnya saat saya  menghadapi kelamnya kehidupan.
Pada waktu persoalan hidup yang berat dan beruntun datang dalam hidup kita, kebanyakan kita akan cenderung terpaku pada persoalan-persoalan tersebut. Ketika tidak mendapatkan solusinya, kita cenderung  menyalahkan Allah. Kita kecewa kepadanya dan meragukan kasih-Nya. Kita lupa bahwa Ia adalah Allah yang selalu mengasihi kita. Lihatlah kembali “album foto” kenangan Saudara bersama dengan Allah! Masihkah Saudara akan menganggap Ia jahat?

Mengendalikan perasaan dengan pikiran
Hal kedua yang diperbuat pemazmur untuk membangkitkan imannya kembali ialah mengendalikan perasaannya dengan pikirannya. Kepada jiwanya Pemazmur bertanya, “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku?” (ay. 6a).  Dalam diri  pemazmur seolah-olah ada dua pribadi yang saling silang pendapat, yaitu pikiran dan jiwa. Pikiran mewakili pengenalannya akan Allah; sedangkan, jiwa mewakili perasaannya yang berespon terhadap persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Selama ini diri pemazmur dikuasai oleh perasaannya sehingga imannya terombang-ambing.  Namun, setelah membuka kembali album kenangan bersama Allah dan memperoleh keyakinan bahwa selama ini Allah adalah Pribadi yang baik dan setia, ia menegur jiwanya, “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku?” Tampak jelas ada nada ketidaksenangan di dalam pertanyaan ini. Walaupun tampaknya Allah absen, tidak peduli, tidak bertindak apa-apa untuk menolong dia dan bangsanya, itu bukan berarti bahwa Allah tidak setia. Pemazmur menyadari bahwa ia tidak boleh dikendalikan oleh perasaannya sendiri.
Setelah Elia memperoleh kemenangan iman yang besar dengan mengalahkan 450 nabi Baal dan membunuh mereka semua, ia dikuasai oleh perasaan takut mendengar acaman pembunuhan yang diberikan oleh Izebel. Segera ia bangkit dan melarikan diri ke Bersyeba, ke padang gurun. Dalam kefrustrasian menanggung tantangan hidup yang berat, ia merasa ingin mati. Elia larut dalam perasaannya. Ia merasa cemas, gelisah, dan sendiri. Pikirannya atau pengenalannya akan Allah dikalahkan oleh perasaannya. Padahal, dengan mata kepala sendiri, ia baru saja menyaksikan  api Tuhan menyambar habis korban bakaran yang menandakan kuasa Allah lebih besar daripada kuasa siapa pun. Pengalamannya bersama dengan Allah itu seharusnya meneguhkan imannya. Tetapi sayangnya perasaaannya lebih banyak berperan, maka terombang-ambinglah dia.
Jerry Bridges, seorang tokoh dari Navigator, berkata, “Ketika kita menghadapi situasi-situasi yang sulit, emosi kita menguasai pikiran kita. Ketika kita merasa Allah sangat jauh, maka Allah akan menjadi sangat jauh. Ketika kita merasa kesepian, maka Allah tidak akan berserta dengan kita.” Tentu saja ia tidak bermaksud mengatakan bahwa keberadaan Allah ditentukan oleh perasaan kita, melainkan betapa riskannya apabila teologi kita ditentukan oleh perasaan kita. Perasaan itu subyektif. Penilaiannya sering didasarkan bukan pada benar atau salah, melainkan mana lebih menyenangkan, lebih nyaman. Lagi pula, ia mudah berubah-ubah tergantung situasi. Oleh karena itu, bila iman kita didasarkan atas perasaan bukan pada pikiran atau pengenalan yang kokoh, sulitlah bagi kita untuk mempunyai iman yang stabil dalam menghadapi badai gelombang hidup kita.
Saya yakin seharusnya teologi kita dibangun atas pengetahuan  akan Allah sebagaimana yang dinyatakan oleh Alkitab. Dari firman-Nya kita mengetahui Allah berkata, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). Ini adalah janji Allah. Pengkhotbah Puritan Thomas Lye menjelaskan bahwa dalam bahasa Yunaninya kalimat ini memiliki lima kata tidak, sehingga dapat diterjemahkan demikian, “Aku tidak akan, tidak mungkin membiarkanmu; juga tidak, tidak akan, tidak mungkin meninggalkanmu.” Lima kali Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita. Dia menginginkan kita memahami kebenaran ini tanpa ragu. Setelah mengetahui kebenaran tentang Allah tersebut, kita harus memutuskan apakah kita akan mempercayai kebenaran ini atau kita akan mengikuti perasaan kita. Jika kita mempercayai Allah, kita harus berkata, “Aku percaya kepada-Mu meski aku tidak merasakan kehadiran dan tidak melihat pertolongan-Mu.”

Menaruh Harapan kepada Allah sebagai satu-satunya sumber pertolongan
Hal ketiga yang diperbuat pemazmur untuk membangkitkan imannya kembali ialah dengan berharap lagi kepada Allah sebagai penolong dan Allahnya. Setelah pemazmur menegur jiwanya yang terombang-ambing, dengan mantap ia memerintahkannya, “Berharaplah kepada Allah!” (ay. 6a). Sekarang pengenalannya akan Allah mulai mendominasi perasaan pesimisnya. Ia bangkit dari perasaan mengasihi diri sendiri dan kembali percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya. Walaupun doanya belum terjawab, permohonannya belum terpenuhi, dan keadaannya belum berubah, ia beriman bahwa Allah hadir sama seperti ketika dulu di Yerusalem. Itulah sebabnya, ia berkata, “Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku” (ay. 6b). Suatu komitmen telah dibuat, komitmen untuk bersyukur kepada Tuhan seperti dulu. Eugene Peterson menerjemahkan “Allahku, Penolongku” dengan “He Puts a smile on my face, He is my God”  yang secara harafiah dapat diterjemahkan menjadi, “Ia menaruh sebuah senyuman di wajahku, Ia adalah Allahku.” Wajah pemazmur yang dirundung ratapan, kini berubah menjadi sukacita karena ia kembali berharap kepada Allah.
Menunggu 11 tahun lahirnya seorang anak dalam pernikahan bukan waktu  yang singkat dan mudah, tetapi akhirnya apa yang diharapkan pasutri ini tiba juga. Betapa tak terkiranya kebahagiaan mereka. Sebut saja nama mereka Naomi dan David, dua orang anak Tuhan yang setia dalam melayani Tuhan. Hati yang penuh dengan luapan syukur mendorong mereka untuk bersaksi di mana-mana bahwa Allah itu kasih dan mukjizat itu nyata dalam diri mereka.
Semuanya berjalan dengan baik sampai memasuki bulan kelima, suatu pagi perut Naomi terasa sakit, pendarahan terjadi, dan suhu tubuhnya meninggi. Segera ia menelpon suaminya dan pergi ke rumah sakit dengan taksi. Atas instruksi dokter kandungan, ia dilarikan ke Unit Gawat Darurat.
Setelah beberapa jam melewati pemeriksaan, USG, dan diinfus, akhirnya dokter dengan sangat hati-hati memberitahukan bahwa bayinya telah meninggal. Melihat kondisi Naomi yang mengkuatirkan, dokter menyarankan kepada David untuk  mengizinkan istrinya dioperasi darurat. Pasutri ini berpelukan sambil menangis. Pengharapan akan hadirnya si kecil hilang sudah.
Paskah operasi, pasutri ini tenggelam dalam dukacita yang panjang. Mereka sungguh tidak siap menerima kenyataan yang menimpa mereka. Hal yang lebih buruk terjadi pada Naomi. Ia tak mampu membendung duka yang selalu bergejolak dalam hatinya. Ada kemarahan kepada Allah dalam hatinya. Baginya sungguh tidak masuk di akal bila Allah yang Maha Kuasa tak mampu menjaga bayinya. Yang benar adalah Allah tak mau menjaganya.
Selama dua tahun Naomi tidak dapat berdoa kepada Tuhan. Ia pun tidak  mau melayani lagi. Sering kali ia bermimpi menggendong bayinya, tersenyum dan tertawa bersama dengannya. Kala ia bangun dan menemukan realita, hidupnya kehilangan harapan.
Berharap kepada Allah di masa-masa sulit, apalagi setelah Allah  tampak mendiamkan kita dalam pergumulan yang panjang, bukanlah hal mudah. Saya percaya itu tidak semudah seperti kita memutuskan akan pergi ke Mall atau tidak. Namun, menjalani masa-masa sulit tanpa harapan, ibarat sebuah sampan yang terkatung-katung tanpa arah di tengah lautan luas dan buas. Harapan kepada Allah adalah keyakinan bahwa apa yang Allah firmankan atau janjikan akan terjadi dalam hidup kita. Harapan berkaitan dengan iman. Ketika kita percaya kepada Allah dengan segala perkataan-Nya, kita mempunyai harapan.
Berharap kepada  Allah tidak berarti kesulitan-kesulitan hidup selesai,  kadang malah memberat. Namun semangat hidup berubah, kita mendapat keyakinan.  Kita tidak lagi seperti orang yang meraba-raba dalam gelap, tetapi berjalan dalam kepastian. Dalam kepedihan Yesus menjerit “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Suatu pertanyaan absah yang lahir dari hati yang tersayat: digantung oleh manusia dan ditinggalkan Allah. Allah, satu-satunya tempat perlindungan yang diharapkan dapat menaungi-Nya, malah memalingkan wajah-Nya. Namun, beberapa saat sebelum hembusan nafas terakhirnya, Ia kembali menyatakan iman dan pengharapan-Nya kepada Allah. Ia berkata, “Bapa, kepada-Mu kuserahkan nyawa-Ku.” Penderitaan dan kematian tidak berlalu, tetapi pengharapan-Nya kepada Tuhan memberi Dia keberanian dan damai sejahtera untuk menjalani semua yang harus Dia jalani. Dalam kalimat terakhir-Nya, “Sudahlah genap”, kita mendapati Yesus telah mengubah nada ratapan-Nya menjadi kemenangan.
Ratapan dukacita Naomi baru berubah menjadi sukacita ketika suatu kali ia berbicara dengan seorang gadis kecil yang baru saja kehilangan adiknya karena leukemia. Gadis itu berkata, “Tante Naomi tahu enggak? Saat adikku sangat menderita dan tak ada dokter yang dapat meringankan sakitnya, Tuhan Yesus datang memeluknya.  Begitu sayang Tuhan sama adikku, lalu digendongnya ia ke sorga.” Tenggorokkan Naomi tersekat sampai-sampai ia tidak dapat berbicara apa-apa. Pemahaman teologi gadis kecil itu membuka selaput mata imannya yang selama ini tertutup dengan kepicikan. Ia tidak pernah melihat seperti gadis kecil ini melihat Allah. Tuhan tidak jahat, Ia baik; Tuhan tidak absen, Ia selalu hadir dan bertindak. Sepanjang perjalanan  pulang, entah bagaimana album kenangan bersama dengan Allah tiba-tiba terbuka dalam pikirannya. Ia melihat lagi satu per satu “foto-foto” itu. Derai air matanya mengalir, hatinya berbisik kepada Tuhan, “Engkau baik, Tuhan!” Ajaib sekali, tiba-tiba ia merasakan pelukan Tuhan. Suatu pelukan yang memberikan rasa damai yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ada air yang mengalir dalam tubuhnya, dan ia sepenuhnya telah terhubung dengan sumber air itu. Pengharapannya terbangun kembali.

Penutup
Pada hari puncak perayaan Pondok Daun, hari yang ke-7, Yesus berdiri di tengah-tengah orang Yahudi dan berseru, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” Orang-orang Yahudi dalam perayaan tersebut mengharapkan air hujan untuk panen mereka, tetapi Tuhan mengetahui kebutuhan mereka yang paling utama: air hidup yang memberikan kelegaan atas kehausan rohani mereka. Karena itu, Ia mengundang siapa saja yang merasa dahaga dan kekeringan akan hadirat Allah untuk datang kepada-Nya dan menerima kelegaan. Dalam Wahyu 21:6 Yesus berkata, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang-orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.” Yesuslah sumber air kehidupan itu sendiri.
Datanglah kepada Yesus! Berharaplah kepada-Nya! Jangan biarkan diri kita berlarut-larut dalam kesedihan, hidup kita akan hancur! Tetaplah percaya dan berharap  kepada Allah sebagai penolong kita meskipun Ia tampak absen di tengah-tengah pergumulan hidup kita yang berat. Tiba waktunya Ia akan mengubah ratapan kita menjadi genderang kemenangan.

                                                      Amin



Doa

Tuhan, tak mampu lagi aku hidup
dalam  kehampaan masa silam.
Sekadar berada di suatu tempat
yang lama telah Kaulupakan.
Aku harus bangkit ... sekali lagi.
Bukan lagi untuk berkubang dalam kepedihan
tapi untuk mengubur masa lalu yang sudah mati;
rasa bersalah yang semu atas kegagalan
yang masih kutanggung hingga hari ini.

Tuhan, berilah aku keberanian
untuk mengatasinya tanpa rasa takut
menghadapinya tanpa kemarahan
dan meninggalkannya tanpa rasa malu.
Berilah aku hikmat
untuk bangkit tanpa mengasihi diri sendiri
percaya tanpa kompromi
dan terus maju tanpa rasa bersalah

Bapa, beri akau pengertian
hingga akhirnya kuperoleh
masa depan yang layak kudapat.
Berdiri teguh dalam imanku;
dan menjawab tantangan.


(Maria Krugh Leaser)

(Dikutip dari buku: Mengkhotbahkan Mazmur Ratapan oleh Danny A. Gamadhi/ http://bennysolihin.blogspot.com/)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar